Kerajinan Diorama Bambu Ngarsopuro

Jika Anda penyinta seni kerajinan, tentunya tak akan asing dengan sentra-sentra kerajinan di Kota Solo. Salah satunya Night Market Ngarsapura.

Saat bermalam Minggu di sana, tentu Anda akan menjumpai beragam kerajinan khas Kota Bengawan. Sejumlah cindera mata unik yang ditawarkan sudah barang tentu akan menggoda hasrat untuk memilikinya.

Begitu pula dengan salah satu kerajinan artistik yang diberi label “Lugoet Bamboo Art”. Kerajinan yang satu ini memang cukup memiliki daya tarik lantaran keunikannya. Dibuat dari sampah lingkungan, kerajinan berupa diorama ini mampu menggambarkan secara detil suasana yang ingin ditampilkan perajinnya.

Berbahan dasar bambu, daun kering maupun barang-barang bekas yang tak terpakai, Lugoet Bamboo Art mampu memikat penyinta seni kerajinan bukan hanya dari Solo. Diakui pembuatnya, Gringsing Ibnu Handoko, peminat kerajinan diorama bambu selain dari Solo juga dari kota-kota lain, seperti Surabaya, Jakarta dan Bandung.

Tema yang ditampilkanpun bermacam-macam, namun tak lepas dari suasana Kota Solo. Inung, sapaan akrab Handoko, mampu membangkitkan kembali suasana Solo tempo dulu yang kental dengan nuansa kesederhanaan. Justru tema-tema inilah yang menurutnya lebih banyak diminati konsumen.

Berbekal pengalamannya sebagai pedagang hik alias angkringan selama tiga tahun, rupanya memberi kesan kuat pada hasil karyanya. Diorama yang ia buat lebih banyak menonjolkan sisi-sisi kehidupan malam. Banyak karyanya yang mengangkat suasana pos ronda, suasana di tempat wedangan, warung malam dan kehidupan malam lainnya.

Guna memberi kesan lebih hidup, Lugoet Bamboo Art juga dilengkapi dengan lampu yang bisa dinyalakan dan dimatikan. Bahkan, agar pelanggan dapat terhanyut ke dalam suasana diorama, Inung pun menyelipkan irama musik pada hasil karyanya.

Lugoet Bamboo Art ditawarkan Inung mulai dari harga Rp 60 ribu hingga Rp 1,5 juta. Memang, jika di tangan orang berbakat sampahpun bisa diubah menjadi emas. “Impian saya, suatu saat punya karya bagus dan punya galeri,” kata Inung, kepada Timlo.net, di kediamannya, beberapa waktu lalu.

Sumber : Timlo.Net

Kaligrafi Bambu Mustamil Rambah Eropa

Berawal dari ketidaksengajaan, Mustamil telah menemukan jalannya untuk meraup puluhan juta, dengan kaligrafi bambung runcing Al-Mustamil.

“Tadinya juga enggak sengaja juga sih, ya coba-coba aja,” ujar Mustamil kepada Kompas.com di Jakarta, Sabtu (23/4/2011).

Awalnya, Mustamil memulai eksperimennya dengan pelepah pepaya. “Tadinya kan mengambil batang pepaya untuk (buat) mainan. Saya coba potong menyerong tahu-tahu bisa membentuk kalimat Allah,” ujar pria yang pernah menjalankan usaha rumah makan ini.

Dari situ, ketika sedang jalan-jalan ke pegunungan, dia pun melihat bambu dan mencobanya. Dengan rasa senang dan percaya diri, dia coba mengembangkannya. Namun Mustamil mengungkapkan kesulitannya dalam berproduksi jika tidak menemukan bambu kering. “Saya kurang perhatian tentang bahan baku,” ujarnya.

Mustamil mengatakan, cukup irit dalam menggunakan bambu. Satu gelondong bisa jadi tiga-empat karya. Untuk menghasilkan ukiran kaligrafi yang bagus, dia membutuhkan bambu yang dan bagian bawahnya, karena kebutuhan akan ketebalan batangnya.

“Sebenarnya di mana-mana bisa, cuma bambu yang bagus ditanam di tanah merah,” katanya.

Bambu yang ditanam di tanah merah memiliki tekstur khusus. Banyak pori-pori di potongan batangnya, dan pencarian bambu pun tidak jauh dari pusat pembuatannya di Yogyakarta.

Untuk modal awal, Mustamil mengaku tidak banyak mengeluarkan dana. Hanya Rp 150.000-Rp200.000. Sampai kini, dana tidak menjadi masalah bagi usaha kaligrafi tulisan arabnya itu.

Mengenai pemasaran, Mustamil mengaku masih menggunakan cara personal, yaitu dari mulut ke mulut, lewat pameran, dan lewat konsinyasi. Hingga kini dia belum menggunakan agen karena pembuatannya belum bisa massal. Belum lagi jika diproduksi secara massal,dikhawatirkan orang akan berpikir kaligrafi bambu mudah cara pembuatannya.

Bahkan untuk pekerja, Mustamil hanya menggunakan tenaga kerja sebanyak dua orang saja, termasuk dirinya.

Sekalipun produksi belum banyak, permintaan pun telah merambah daratan Eropa, khususnya Perancis. “Dari akademi apa itu tadi,” ungkapnya mengenai si pembeli dari Perancis tersebut, yang bertemu di pameran Inacraft, di Jakarta Convention Center (JCC), beberapa waktu lalu.

Terkait omzet, usaha yang telah dimulainya sejak 2007 ini bisa mencapai Rp 35 juta per bulannya, dengan 10-20 karya yang dihasilkan. Harganya pun bervariasi antara Rp 1 juta dan Rp 5 juta.

“Misalnya sulit tapi bisa berhasil, saya senang, nah itu bisa mahal,” ungkapnya, mengenai harga yang bervariasi berdasarkan tingkat kesulitan pengerjaannya.

Ke depannya, dia berkeinginan membuka toko di Jawa Barat, di sebuah pesantren. Sembari membuka toko, dia pun diminta mengajari para santri di pesantren tersebut.

Sumber :Kompas.com

Usaha Bambu Rumahan Rambah Luar Negeri

Produk kerajinan bambu berupa peralatan rumah tangga seperti tambir dan kalo dari Bantul telah menembus sejumlah supermarket besar di Jakarta. Sebagian lainnya dipesan pada tingkat regional, seperti Solo, Purwodadi, Grobogan, dan Kroya.

Selain tambir dan kalo sebagai produk andalan, perajin juga memproduksi jenis lainnya, seperti irik, kursi, tempat tisu, cething (tempat nasi), kotak serbaguna, nampan, besek, krakat dimsum, piring bulat, tudung saji, dan besek.

Suryanto, salah seorang perajin bambu di Wukirsari, Imogiri, Bantul, mengatakan, produksi jenis ini sangat tergantung pada pesanan sehingga pengembangannya pun menjadi sulit.

Untuk satu batang bambu dengan panjang sekitar 4 m yang dibeli dengan harga Rp 7.500 dapat diproduksi lebih kurang 30 tambir. Pembuatan 30 tambir tersebut dapat diselesaikan selama 2 hari oleh dua orang pekerja. Jika harga jual satu buah tambir Rp 2.700 dan biaya produksi diperkirakan Rp 1.000 per tambir, pendapatan perajin per tambir sebesar Rp 1.700.

Dengan demikian, dalam waktu satu bulan perajin bambu bisa memperoleh pendapatan dari usahanya tersebut sebesar Rp 765.000. Bila home industry ini mempekerjakan lebih dari 2 orang tenaga kerja, dapat diperkirakan bahwa usaha ini mampu menghidupi seluruh anggota keluarga.

Bagi Paijan bambu adalah jenis tanaman yang sangat berguna. Di tangan pria berusia 41 tahun ini bambu bisa menjadi kerajinan Lombok bernilai seni dan ekonomi seperti kerajinan Lombok.

Melalui tangan kreatif Paijan, bambu-bambu yang ada disekitar rumah dan desanya dibuat menjadi berbagai macam produk kerajinan Lombok island yang menarik. “Bambu-bambu saya buat handicraft seperti tempat sampah, lampu, gantungan, figura, boks, tas dan nampan,” ungkap Paijan.

Tiap pekan Paijan bersama tujuh pengrajin handicraft mampu menghasilkan sekitar 60 kerajinan yang terdiri dari berbagai macam kerajinan bambu yang mereka produksi. Hasil kerajinan Lombok islandnya tak mahal. Produk kerajinan bambu Lombok handicraft berupa boks misalnya, untuk ukuran besar dengan panjang sisi 25 senti meter Rp 35 ribu, ukuran sedang dengan ukuran panjang sisi 20 senti meter Rp 30 ribu dan untuk ukuran kecil Rp 20 ribu.

Sampai saat ini pembuatan produk kerajinan bambu Lombok handicraft wholesale memang belum setiap hari. Paijan memproduksi bersama tujuh pengrajin kerajinan Lombok island lainya hanya tergantung pesanan dan stok produksi. Mereka mengerjakan kerajinan bambu Lombok handicraft wholesale ini hanya dua kali sepekan.

Paijan bersama tujuh pengrajin handicraft wholesale lainya tergabung dalam sebuah Kelompok Baru Muncul. Baru muncul adalah kelompok handicraft wholesale bersama yang ada di Desa Nawung, Gayamharjo, Prambanan Kabupaten Sleman.

Kelompok Baru Muncul ini berdiri pada akhir 2007 yang diprakarsai dan bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Internasional Arbeiter Samariter Bund (ASB). Sampai saat pasar kerajinan bambu Lombok handicraft memang belum banyak. Tapi setiap bulanya omset dari kerajinan bambu ini mencapai Rp 3 juta.

Bambu merupakan tanaman jenis palem. Bambu yang digunakan Paijan adalah jenis bambu hitam atau bambu wulung Lombok island. Saat ini bambu memang merupakan jenis tanaman yang sangat berguna untuk berbagai macam produk maupun untuk bahan bangunan.

Begitu juga dengan kerajinan anyaman bambu dari Dusun Karang Asem, Desa Munthuk, Kecamatan Dlingo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), merambah pasar luar negeri.

“Barang kerajinan anyaman bambu dari desa itu ternyata banyak diminati konsumen di Spanyol, Denmark, dan Amerika,” kata Sunarto di Bantul.

Menurut pria yang telah menjalani usaha kerajinan bambu sejak 1998 ini, produk kerajinan anyaman bambu yang paling diminati konsumen luar negeri adalah box cady atau kotak yang bagian sisinya berjeruji dari bambu.

“Barang kerajinan ini cocok sebagai tempat menyimpan perlengkapan makan seperti sendok, garpu, dan piring,” katanya.

Karena desainnya menarik, barang kerajinan ini umumnya banyak digunakan di restoran atau rumah makan di luar negeri.

Menurut Sunarto, barang kerajinan anyaman bambu produksi Bantul bisa sampai ke luar negeri melalui perdagangan langsung ataupun lewat perantara.

“Pada awalnya pihak perantara menawarkan barang kerajinan itu kepada wisatawan, dan jika terjadi kesepakatan, perantara kemudian mengirim produk tersebut sesuai permintaan,” katanya.

Kadang pemesan tidak langsung bisa menerima atau cocok dengan desain barang yang ditawarkan. “Mereka tidak jarang minta desainnya disempurnakan,” katanya.

Sunarto saat ini mempekerjakan 10 karyawan tetap, sedangkan 50 pekerja borongan mengerjakan pesanan di rumah mereka masing-masing, lalu barang kerajinan bambu yang dihasilkan disetorkan kepadanya.

“Untuk membuat satu barang kerajinan bambu tergolong sulit, sehingga harus cermat dan teliti, mulai dari melubangi, mengamplas, menghaluskan, hingga pengeringan,” katanya.

Setiap perajin rata-rata hanya mampu membuat tiga barang kerajinan bambu setiap harinya. Ia menjual produk kerajinan seharga Rp 20.000 per unit, dengan mengambil keuntungan sekitar Rp 3.000 per unitnya.

“Selama seminggu kami mampu menjual antara 500 hingga 600 barang kerajinan bambu. Hasil penjualan produk kami sebulan bisa mencapai Rp 50 juta-Rp 60 juta,” katanya.

Bahkan, setiap awal tahun ataupun akhir tahun biasanya permintaan meningkat 30 persen hingga 40 persen.

“Terkadang kami tidak bisa memenuhi permintaan konsumen pada masa panen pesanan seperti itu, karena keterbatasan alat kerja serta tenaga yang ada. Saat ini kami hanya memiliki satu macam alat untuk melubangi bambu,” katanya.

Mengenai bahan baku didatangkan dari wilayah sekitar. Ia membeli bambu per batang seharga Rp 10.000, dan setiap batang bambu dapat untuk membuat barang kerajinan sebanyak 20 hingga 25 unit. “Selama ini pasokan bahan baku tidak ada masalah,” katanya.

Sumber : www.suaramedia.com

Kerajinan Miniatur Bambu, Kreasi dari Limbah Bangunan

Di tangan seorang perajin di Solo, Jawa Tengah, limbah bambu bekas proyek pembangunan rumah yang biasanya hanya dibuang, ternyata bisa menjadi bahan pembuatan kerajinan yang bernilai ekonomis tinggi. Limbah bambu tersebut dibuat kerajinan autodrama atau miniatur kehidupan, yang diminati tak hanya warga di wilayah tersebut, namun, juga dari berbagai kota di Indonesia.

Inilah suasana warung angkringan atau Hik, yang digambarkan secara detail oleh seorang perajin di Banyuanyar, Solo, bernama Gringsing Ibnu Handoko atau Inung, dalam sebuah karya kerajinan miniatur bambunya. Tak hanya interaksi pembeli dan penjual, bagian-bagian dari warung angkringan juga digambarkan dengan cermat, seperti ceret atau tempat pembuatan minuman maupun beraneka macam makanan yang dijual di warung angkringan tersebut.

Tak hanya suasana warung angkringan, sejumlah aktivitas warga lainnya, terutama pada masa lampau, juga ditampilkan Inung dalam berbagai karya kerajinan miniatur bambu, yang disebutnya sebagai kerajinan autodrama. Seperti penjual es, gotong royong membangun pos ronda, wedangan, gerobak sapi dan sebagainya.

Siapa sangka, kerajinan miniatur bambu atau autodrama yang sangat indah ini ternyata hanya dibuat dari limbah bambu. Awalnya, Inung merasa prihatin dengan banyaknya limbah bambu bekas pembangunan rumah yang ternyata hanya dibuang atau dijadikan kayu bakar. Dengan sentuhan seni, sisa-sisa bambu itupun mulai dirakit menjadi berbagai miniatur kendaraan, seperti kereta api, sepeda motor, dan sebagainya. Dalam perkembangannya, Inung pun menemukan bentuk yang lebih cocok, yaitu miniatur kehidupan atau autodrama.

Dibanding menggunakan kayu, menurut Inung, pembuatan miniatur dari bambu ternyata lebih mudah dan sederhana. Pertama, bambu dibersihkan dan dipotong sesuai bentuk dan ukuran yang diinginkan. Potongan-potongan bambu inilah yang dirangkai menjadi miniatur dengan menggunakan lem. Agar terlihat lebih indah, biasanya dipadu dengan karung goni dan daun pisang kering. “Dibanding kayu, bahan bambu bisa lebih menampilkan detil miniatur yang ingin dibuat,” katanya.

Sejak dirintis setahun lalu, saat ini, kerajinan tersebut terus diminati banyak kalangan. Dengan dibantu dua temannya, dalam sebulan, Inung mengaku bisa membuat sekitar 10 kerajinan miniatur bambu berukuran besar dan sekitar 25 hingga 30 miniatur bambu. Tak hanya dari wilayah Solo dan sekitarnya, pesanan pun datang dari berbagai kota di Indonesia.(Wiwik Susilo)

Sumber : Bursa Kreasi

LESTARIKAN BUDAYA BANGSA DENGAN KERAJINAN MINIATUR RUMAH ADAT

Berawal dari keprihatinan dengan makin tergusurnya berbagai rumah adat di Indonesia, seorang warga di Solo, Jawa Tengah, sejak 13 tahun terakhir, memilih profesi sebagai pembuat miniatur berbagai bentuk rumah adat. Miniatur ini dibuat dari kayu-kayu bekas dengan cara manual dan dijual dengan harga 50 hingga 100 ribu rupiah per buah.

Di sebuah kios kecil di jalan Ronggowarsito, Kota Solo, milik Slamet Riyadi, Anda dapat melihat berbagai aneka miniature rumah adapt Indonesia. Aneka barang dagangan ini sangat unik dan tidak bisa ditemui di tempat lain.

Slamet Riyadi sudah sejak 13 tahun lamanya menggeluti usaha pembuatan miniature rumah adapt. Profesi tersebut dipilih setelah Slamet melihat banyak rumah adat asli Indonesia, yang saat ini justru makin terpinggirkan.

Berbekal brosur-brosur rumah adat yang merupakan oleh-oleh anaknya saat berpiknik ke Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Slamet pun mempunyai ide untuk membuat miniatur rumah adat tersebut, agar tidak makin dilupakan.

Tanpa karyawan atau pembantu, Slamet Riyadi membuat miniatur rumah adat ini dengan peralatan sederhana. Bahannya pun hanya memanfaatkan kayu-kayu limbah dari pabrik kayu olahan.

Karena dilakoninya sendiri, dalam sehari, Slamet biasanya hanya bisa membuat satu hingga dua buah miniatur. Bahkan, jika sulit, seperti rumah adat Toraja, Slamet butuh waktu tak kurang dari 3 hingga 4 hari, agar motif ukiran bisa persis sama dengan bentuk aslinya.

Meski dijual hanya dengan 50 hingga 100 Ribu Rupiah per buah, namun omset penjualan miniatur rumah adat ini tergolong masih sangat kecil. Dalam sebulan paling banyak hanya sekitar 1 hingga 5 miniatur saja yang bisa terjual.

Bahkan pernah dalam sebulan, tidak satupun miniatur karya Slamet bisa terjual. Keuntungan lebih hanya bisa didapatnya jika mendapat pesanan dari sekolah-sekolah, dengan jumlah cukup banyak. Jika tidak ada pesanan, waktunya pun lebih banyak dihabiskan untuk mengukir miniatur rumah adat, daripada melayani pembeli.

Meski demikian usaya yang di rintis Slamet Riyadi, patut diacungi jempol karena telah berusaha melestarikan budaya bangsa dengan membuat miniatur rumah adat berbentuk tige demensi tanpa harus pergi ke tempat asalnya.

Sumber : Bursa Kreasi