Lukisan Pelepah Pisang Karya Pak Moel Bandung

Apa yang dilakukan Ade Mulyana, sangatlah langka. Untuk menyalurkan hasrat melukisnya, Moel, demikian sapaan akrabnya, tidak menggunakan kanvas atau cat. Tapi dia memilih bahan baku yang sangat tidak biasa yaitu pelepah batang (gedebog) pisang.

Pria berusia 64 tahun ini memanfaatkan pelepah pisang sejak puluhan tahun lalu. Dituturkan kakek enam cucu ini, dirinya mulai menekuni melukis dengan pelepah pisang sejak masih lajang sekitar tahun 1969.

“Saya suka corat-coret, menggambar, tapi saya ingin buat yang beda dengan pelukis lain dengan tidak menggunakan cat,” ujar Warga Jalan Amir Machmud Gang PGRI Cimahi ini.

Moel menuturkan inspirasi untuk menjadikan pelepah pisang sebagai bahan baku tidak datang begitu saja. Di tahun 1969, dia dan beberapa kawan melakukan perjalanan ke Gunung Burangrang. Dari situlah menurut Moel, Tuhan memberikannya petunjuk tentang apa yang harus dia lakukan.

“Saat saya pulang menuruni gunung, kaki saya terkilir, karena sakit saya istirahat. Saat istirahat saya menemukan begitu banyak pohon pisang di kaki bukit dan sehelai pelepahnya kemudian saya pungut, dari sanalah ide muncul. Kaki saya yang sakit pun tidak sakit lagi saking senangnya,” ungkap lulusan Akademi Administrasi Negara ini.

Moel pun memulai eksperimennya. Kala itu di sebelah rumahnya terhampar kebun sehingga memudahkan dirinya untuk mendapatkan pelepah pisang. Pelepah pisang disamak terlebih dahulu. Untuk gedebog yang masih muda dan berwarna hijau setelah dikelupas lapisan per lapisannya lalu dikukus selama satu jam menggunakan bahan-bahan pengawet seperti gambir, tembakau, daun sirih, kapur sirih, garam juga kayu manis.

“Setelah itu dikeringkan selama empat hari tapi tidak di bawah sinar matahari langsung,” ujarnya.

Bermodalkan lem dan alas yang terbuat dari hard board, Moel menyobek-nyobek pelepah menjadi bagian-bagian kecil dan menempelkannya ke atas hard board.

Padahal, menurut Moel, awal bereksperimen dirinya cukup nekat juga. Lem yang digunakan cukup keras dan harus dicairkan lebih dulu. Lem tersebut lebih mudah diaplikasikan dalam kondisi cair dan panas.

“Kalau dingin bisa mengeras kembali. Saya pun nekat pakai sampai beberapa jari melepuh karena panasnya,” tutur Moel.

Kemudian Moel menggunakan potongan bambu untuk membantu mengoleskan tapi membuatnya tidak puas. Moel pun tidak menyerah, rasa bahagianya membuat dia terus berjuang dengan jari-jarinya.

Tahun 1971, dia baru bisa menjual karyanya. Saat itu dijual dengan harga Rp 8.500. Karya yang dijual adalah karya kedua, sedangkan karya pertamadisimpan Moel untuk kenang-kenangan. “Saat itu karena masih awal, karya baru bisa selesai dalam 1-2 bulan,” ujarnya.

Seiring waktu, Moel pun mengganti hard board dengan triplek. Kemampuannya dalam merangkai pelepah pisang jadi lukisan kian terampil. Waktu yang diperlukan untuk membuat satu lukisan kian pendek.

Sampai kini, di usianya yang sudah lanjut Moel masih terus berkarya. Sebuah saung kecil di depan rumah sederhananya dia jadikan sebagai studio. Saat ditanya sampai kapan akan berkarya? “Sepanjang hayat,” jawab Moel pendek.

Sumber : detikBandung

Kaligrafi Dari Pelepah Pisang

Sebagian orang mungkin menganggap pelepah pisang tak punya manfaat. Padahal dengan sedikit sentuhan seni, seniman bisa menyulap pelepah pisang menjadi lukisan kaligrafi yang unik dan bernilai tinggi. Beberapa perajin yang memanfaatkan pelepah pisang menjadi lukisan kaligrafi ini pun menangguk omzet hingga puluhan juta setiap bulan.

Tanah Indonesia yang subur, cocok bagi pertumbuhan beragam tanaman. Tak terkecuali tanaman pisang. Selain diambil buah dan daunnya, pohon pisang juga bisa menghasilkan karya seni bernilai tinggi. Yakni, dengan memanfaatkan pelepah pisang menjadi bahan lukisan kaligrafi.

Adalah Suhendra Suharto, salah satu seniman yang menggunakan pelepah pisang sebagai bahan baku lukisan kaligrafinya. Pria 41 tahun asal Bogor ini mulai membuat kaligrafi dari pelepah pisang sejak 2007 lalu. “Selain mengurangi sampah, penggunaan pelepah pisang bisa menjadi sumber penghasilan,” tegas Suhendra yang memberi merek kaligrafinya Cahaya Ilahi.

Menurut Suhendra, lukisan kaligrafi dari pelepah pisang terlihat lebih indah karena memiliki kesan tiga dimensi. Selain kesan alami yang menonjol, lukisan ini akan tampak lebih nyata bila dipandang.

Tak heran, harga lukisan kaligrafi ini lumayan mahal. Suhendra membanderol lukisan kaligrafinya mulai dari harga Rp 600.000 hingga Rp 2,5 juta, tergantung ukurannya.

Dalam sebulan, ia bisa menjual antara 20 hingga 25 lukisan. Dari kerajinan ini, Suhendra bisa menangguk omzet Rp 25 juta dengan untung berkisar 20%-25%.

Konsumen kaligrafi Suhendra berasal dari kota-kota besar di Indonesia, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, Balikpapan hingga Medan. Ia juga mulai mengirim ke Malaysia dan Singapura sejak tahun lalu meski belum secara rutin.

Untuk menarik konsumen, Suhendra juga melayani pemesanan ayat atau surat dalam Al Quran dari pelepah pisang. Biasanya, pesanan ini memiliki harga khusus, sesuai dengan tingkat kerumitan dan ukurannya. “Rata-rata lebih mahal 15% hingga 30%,” ujar Suhendra.

Ia mengumpulkan bahan baku dari pengumpul pelepah pisang di sekitar Bogor. Pelepah pisang itu kemudian dijemur untuk meniadakan kandungan air. Setelah kering, pelepah diremas-remas agar mudah dibentuk dan kemudian ditempel dengan lem di media lukisan, yakni papan tripleks.

Lukisan kaligrafi yang sudah selesai kemudian dilapisi dengan vernis. Dengan pelapisan tersebut, Suhendra menjamin lukisannya mampu bertahan hingga 20 tahun.

Seniman yang juga membuat kaligrafi dari pelepah pisang adalah Budie Setiawan. Sejak 1996 silam, Budie yang juga asal Bogor ini telah mendalami kerajinan ini.

Tak hanya kaligrafi, Budie juga mengerjakan berbagai macam objek gambar yang dirangkainya dari pelepah pisang yang telah mengering.

Ia mendapat inspirasi kerajinan tersebut dari sang kakak yang telah membuat kerajinan pelepah pisang sejak tahun 1986. “Saya tertarik karena saat itu kerajinan tersebut masih langka,” ujar Budie. Ketika mengawali usaha lukisan ini, Budie hanya bermodal duit sebesar Rp 500.000 saja.

Kini, Budie di studio kaligrafi dengan merek Debog Art di Cibadak, Sukabumi, bersama tiga pekerja banyak mengerjakan pesanan lukisan kaligrafi. Ia mengerjakan satu lukisan pelepah pisang ini dengan waktu dua hari hingga satu minggu. “Saya menghasilkan antara 10 hingga 20 lukisan kaligrafi dalam sebulan,” ujarnya. Namun, jika ada pameran, Budie akan menyiapkan lukisan pelepah pisang ini hingga ratusan buah dalam sebulan.

Dengan mengikuti berbagai macam pameran tersebut, ia mengaku bisa menambah penjualan karyanya. Jika dalam bulan-bulan biasa, ia bisa mendapatkan omzet hingga Rp 8 juta, jika memajang karyanya di pameran, omzetnya pun bisa berlipat hingga Rp 15 juta.

Itulah sebabnya, Budie pun aktif mengikuti pameran, seperti InaCraft, Pekan Raya Jakarta (PRJ), serta juga pameran di beberapa mal di wilayah Jabodetabek. Harga yang ia patok berkisar antara Rp 100.000 hingga Rp 3 juta per unit. “Harganya tergantung ukuran dan tingkat kesulitan,” ujar Budie.

Sumber : Kontan.co.id

SOUVENIR CANTIK DARI PELEPAH PISANG

Berawal dari kepeduliannya terhadap lingkungan di sekitar rumahnya, Suci Luarni, seorang ibu rumah tangga, di gresik, mampu menghasilkan kerajinan aneka souvenir cantik, dengan memanfaatkan pelepah pisang. Usaha yang berawal dari hobi tersebut, kini mampu menciptakan lapangan kerja baru, karena produknya telah menembus pasar internasional.

Produk-produk cantik dan murah lingkungan tersebut di gagas oleh Suci Luarni (40 tahun), seorang ibu rumah tangga, warga Griya Kembangan, Kecamatan Kebomas, Gresik Jawa Timur yang telah menembus pasar dalam dan luar negeri, diantaranya Singapura, Perancis dan Italia.

Ibu rumah tangga yang telah lima tahun menekuni kerajinan pelepah pisang tersebut, telah menghasilkan beragam produk kerajinan, diantaranya kap lampu, kotak tisue, tas, sandal, tudung saji, kotal alat tulis kantor, piring, pigora, karya lukis pelepah pisang dan masih banyak lagi.

Suci Luarni, perajin, mengatakan, ide pembuatan souvenir cantik ini berawal dari melimpahnya bahan baku pelepah pisang, yang banyak tumbuh di sekitar rumahnya.

Namun, tidak semua pelepah pisang dapat digunakan, namun hanya dipilih pelepah pisang yang teksturnya terlihat indah dan kuat, diantaranya pisang gepok, pisang raja dan pisang ambon.

Proses pembuatannya diawali dengan pemilihan pelepah pisang yang telah dijemur hingga kering. Selanjutnya, pelepah pisang diambil bagian kulit arinya untuk ditempel dan dipanaskan dengan menggunakan solder hingga halus dan melekat.

Sebelum dipasarkan, barang setengah jadi tersebut dirapikan dan disemprot menggunakan melamine agar pelepah pisang mengkilat. Sedangkan, untuk tambahan asesoris, biasa menggunakan rotan sebagai pemanis.

Di tengah sulitnya ekonomi seperti sekarang ini, usaha yang berawal dari hobi ini, ternyata mampu menarik puluhan tenaga kerja warga di desanya.

Untuk mendapatkan produk kerajinan ini juga tidak terlalu mahal, karena cukup dijual dengan harga bervariaitf mulai dari Tiga Ribu Rupiah, hingga 300 Ribu Rupiah per bijinya.

Sumber : www.berita86.com

LUKISAN 3 DIMENSI DARI LIMBAH PELEPAH PISANG

Lukisan terlihat menarik bukan hanya terbuat dari media kanfas, batu dan lainnya. Di Lamongan Jawa Timur, seorang seniman menuangkan hasil lukisannya dengan menggunakan bahan dasar limbah pelepah pisang. Hasil karyanya pun terlihat indah berwarna alami, terutama jika terkena pantulan sinar matahari.

Unik dan bernilai seni tinggi, inilah yang terlihat pada lukisan limbah pelepah pisang tiga dimensi, hasil karya, Jemy, seniman asal Kampung Rangge Kelurahan Sukomulyo Lamongan.

Untuk membuat sebuah lukisan pelepah pisang terbilang agak rumit. Bahan dasar pelepah pisang yang didapatnya harus dalam keadaan busuk dan telah di rendam dengan tanah liat selama berbulan-bulan. Pelepah pisang yang busuk kemudian di potong hingga seperti serbuk, kemudian dikeringkan dibawah sinar matahari. Serat pelepah pisang yang sudah tertimbun tanah ini tidak akan lapuk atau berjamur, sehingga dipastikan lukisan akan bertahan dalam tempo yang lama.

Dengan ketelatenan jari-jari kreatifnya, sebuah lukisan bertemakan keindahan mulai dikerjakannya. Hanya menggunakan alat sendok makan, batang pohon dibentuk sedemikian rupa, dengan bahan serbuk pelepah pisang yang telah dicampuri dengan lem khusus.

Membuat dedaunan pohon juga dilakukan dengan jari tangan. Namun, membutuhkan ketelatenan dan ketenangan. Jika lukisan telah terbentuk, pelukisan hanya membakar bagian tertentu untuk menghasilkan warna hitam kecoklatan.

Untuk menghasilkan sebuah lukisan, membutuhkan waktu empat sampai lima bulan. Bahkan, jika hati sang pelukis tidak sedang dalam kondisi prima, penyelesaian sebuah lukisan berukuran 180 meter persegi, butuh waktu hingga satu tahun.

Jemy, pelukis dari limbah pelepah pisang mengaku, menggunakan media pelepah pisang sangatlah jarang dilakukan oleh para seniman. Seniman yang lahir 35 tahun silam ini, mampu mengekspresikan kreatifitasnya melalui limbah pohon pisang dan telah menghabiskan 12 tahun untuk bereksperimen.

Lukisan limbah pelepah pisang tiga dimensi, disebutnya karena memiliki keindahan dari bahan dasarnya. Bahkan, jika lukisannya berumur lebih dari tiga tahun, bahan limbah pelepah pisang akan terlihat semakin indah berkilau terutama saat terkena pantulan sinar matahari.

Seni lukis yang digeluti 12 tahun silam, sebuah karya lukisannya dihargai mulai dari 5 Juta hingga Ratusan Juta Rupiah, tergantung ukuran lukisan dan tingkat kesulitannya.

Sumber : www.berita86.com

Boneka dari Limbah Pisang Tembus Jepang dan Eropa

Di tangan Supartini atau lebih dikenal dengan nama Tien Soebandiri, limbah pelepah pisang bisa disulap menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi. ”Pada dasarnya saya suka berkreasi dengan kerajinan  dari bahan apa pun. Kalau kelobot atau kulit jagung dan daun kering rasanya sudah sering, saya iseng coba pelepah pisang waktu itu,” kata wanita dengan empat cucu ini.

Idenya sederhana, menjadikan pelepah pisang sebagai produk kerajinan khas lokal yang bisa ditenteng sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. ”Suami saya kalau ke luar negeri sering beli kerajinan khas negara tersebut. Kebanyakan berupa boneka. Saya terinspirasi dari situ, menjadikan pelepah pisang sebagai boneka yang mudah ditenteng wisatawan,” kata wanita berusia 66 tahun ini.

Awalnya, ia hanya bermodal satu gedebok pisang yang sudah dikeringkan untuk diuji coba. Bahannya, kawat sebagai kerangka, lem dan benang untuk rambut. Untuk boneka besar yang lebih dari 20 cm, kerangkanya dari botol. Baju boneka bisa di-mix pelepah pisang kering, kelobot, kepompong, dan daun kering. Untuk rambutnya, bisa terbuat dari serabut jambe atau potongan tali karung.

”Saya bikin 2–4 boneka sebagai contoh. Setelah direspons, barulah bikin dalam jumlah banyak. Order terbanyak ekspor ke Jepang dan Eropa, tapi tidak ekspor langsung melainkan lewat buyer dari Jakarta yang mengirimkan ke sana,” ujar Tien saat ditemui di rumahnya di Jalan Ciliwung, Surabaya.

Untuk boneka yang kecil-kecil setinggi 20 cm, harganya berkisar Rp 50.000–Rp70.000, sedangkan yang berukuran besar antara Rp 100.000–Rp 150.000. Harga bisa menyesuaikan sesuai order dan tingkat kerumitan pembuatan baju. ”Saya tidak ready stock, hanya by order. Stok yang ada ini hanya untuk contoh. Tiap bulan tak selalu ada order karena kerajinan saya tak hanya boneka, tapi ada bunga kering dan kerajinan lainnya. Kalau order boneka sepi, omzet di-cover dari kerajinan yang lain,” lanjut mantan Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan Bunga Buatan (Aspringta) Surabaya ini.

Menurut Tien, order paling ramai jika ada pameran dan musim pernikahan karena banyak pesanan boneka limbah ini untuk dijadikan sebagai suvenir. Untuk kebutuhan gedebok pisang, ia pesan langsung dari Yogyakarta, Mojokerto, dan Sidoarjo.

”Kalau pas musim kemarau, saya beli gedebok banyak untuk stok saat musim hujan karena susah dapat gedebok bagus, rata-rata gampang busuk dan rusak,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 14 Maret ini.

Sekali mengirim gedebok kering sampai 10 kg dengan harga Rp 175.000–Rp 200.000. Ia sengaja tidak memesan gedebok basah karena proses pengeringannya harus secara manual dan itu memakan waktu lama. ”Tak semua gedebok kering itu bisa dipakai, saya pilih serat yang bagus, yang cacat dibuang. Jadi 10 kg gedebok kering bisa menghasilkan 50 boneka kalau ukurannya besar, tapi untuk boneka ukuran kecil bisa 100 boneka. Itu jatah sebulan,” kata Tien yang melibatkan puluhan ibu-ibu perajin untuk pembuatannya.

Proses pembuatan boneka pelepah pisang tidak terlalu rumit. Gedebok kering direndam 60 menit dengan cairan H2O2 (hidrogen peroksida). Harga cairan ini Rp 350.000 per galon. Jangan terlalu lama direndam karena bisa getas. Angkat, lalu cuci bersih, diangin-angin sebentar, jangan dijemur di bawah terik matahari. Masuk proses pewarnaan dengan sitrun selama 20 menit. Angkat, lalu keringkan secara manual. Setelah itu baru disetrika, lalu digunting sesuai kebutuhan.
”Dari unsur kepompong kering dan daun kering, seperti daun sirsak, saya buat untuk aksesori boneka berupa bros cantik. Proses pengeringannya hampir sama, cuma harus lebih telaten karena gampang rusak,” kata wanita yang tiap bulannya bisa meraup omzet Rp 5 juta dari usaha ini. (kompas)

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com
Gambar : http://www.idekerja.com

Kerajinan Pelepah Pisang dan Enceng Gondok

Pelepah pisang ternyata memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri setelah diproses menjadi berbagai macam kerajinan. Baik melalu model penempelan (laminating), anyaman maupun untuk kominasi dengan produk kerajinan lainnya.


Tekstur dan warna dari pelepah pisang ternyata sangat unik dan alami, dan akan membuat kerajinan yang dikombinasi dengan pelepah pisang menjadi lebih menarik dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Aneka macam produk kerajinan yang memanfaatkan kerajinan pelepah pisang lebih banyak yang diekspor dari pada yang dibutuhkan untuk pasar dalam negeri.

Hal ini dapat dilihat di sentra kerajinan rotan, di desa Trangsan, Kecamatan Baki, Kab. Sukoharjo dekat dengan Kota Solo. Di mana rata-rata produk yang dibuat diorientasikan untuk pasar ekspor.

Pelepah pisang dalam produknya dikombinasikan dengan rotan dan enceng gondok. Menghasilkan produk yang benar-benar unik dan menarik. Kelebihan lainnya adalah bebannya yang sangat ringan, sehingga furniture dari pelepah pisang ini mudah dipindah-pindahkan dan cocok untuk orang-orang yang menyukai suasana rumah yang selalu baru dan berubah.

Begitu juga dengan enceng gondok yang semula adalah limbah, atau tanaman yang dianggap mengganggu karena tumbuh liar di Rawa Pening Semarang dan melalui proses yang sama dengan pelepah pisang mampu dimanfaatkan menjadi aneka kerajinan. Produk yang dihasilkan hampir sama dengan pelepah pisang namun memiliki ciri khas warna dan motif yang berbeda.

Contoh foto produk kerajinan pelepah pisang dan enceng gondok:

Sumber : MMFaozi