Serba Mini dari Betawi

Menyalurkan hobi, melestarikan budaya, sekaligus berbisnis. Begitulah yang dilakoni Burhan dan tiga kawannya yang tergabung dalam rumah produksi Artbizz. Sebagai “anak sekolahan” yang lahir dan besar di kawasan Lebak Bulus, dia cukup paham seluk-beluk budaya asli masyarakat Betawi. Burhan dan kawan-kawan ingin khalayak luas, termasuk wisatawan asing yang berkunjung ke Jakarta, mendapatkan oleh-oleh nan simpel tapi penuh makna. Dari hasil kongko pada pertengahan tahun lalu, tercetuslah ide membuat rumah adat betawi dalam bentuk mini.

Sebagai anak betawi, ia prihatin karena sulit menemukan rumah warga Betawi yang betul-betul berkonsep tradisional di kampung Betawi. “Banyak orang yang tak paham kalau tiap bagian rumah adat betawi ini memiliki makna,” kata insinyur teknik informatika jebolan Universitas Pembangunan Nasional Veteran itu saat ditemui Tempo di Mal UKM, Tanah Abang, Sabtu pekan lalu. Dia mencontohkan, paseban atau ruang tamu selalu terletak di depan rumah. Ini bermakna sifat orang Betawi yang terbuka dan siap menerima tamu kapan saja. Sedangkan gigi balang, rumbai yang berada di bawah atap, bermakna pertahanan yang kuat.

Kerajinan berupa rumah adat mini bukanlah yang pertama. Rumah adat Bali dan Yogyakarta telah lebih dulu dibuat orang. Tapi Burhan mengklaim, rumah adat Betawi yang dibuatnya amat menonjolkan detail. Saat ini, Artbizz baru menggarap dua dari empat jenis rumah Betawi, yakni rumah panggung (tingkat si Pitung) dan gudang. Sisanya, joglo dan kebaya tengah digarap untuk mengikuti ajang pamer tingkat nasional.

Untuk mendapatkan desain tempo dulu, mereka harus membuka-buka aneka buku kuno dan berselancar di dunia maya. “Sekitar 75 persen bahan yang kami gunakan merupakan hasil daur limbah,” kata Tomo, pria keturunan Jawa kelahiran Bali yang didaulat sebagai kepala produksi. Untuk atap, misalnya, dipilih janur kering. Tusuk gigi digunakan untuk membentuk jendela kayu. Pintu dan kolom rumah terbuat dari bambu kuning. Melengkapi detail, Tomo menambahkan sepiring pisang goreng dan secangkir kopi yang terbuat dari clay (keramik berbahan parafin). Semua bahan didapat dari lingkungan sekitar. Sejauh ini, mereka belum menemukan kesulitan berarti. Satu-satunya kesulitan adalah ketelitian dan kesabaran, terutama pada pembuatan detail, seperti bilik dan gigi balang.

Untuk modal, sejauh ini mereka belum melirik bantuan perbankan. Dari hasil saweran keempat sekawan itu: Burhan, Tomo, Iwan, dan Usman, terkumpul Rp 10 juta sebagai modal awal. Untuk urusan pengembangan produk dan pemasaran, Burhan dan Tomo menunjuk Iwan dan Usman. Selain rajin mengikuti pameran, Artbizz sudah menggandeng agen di lingkungan Taman Mini untuk mempromosikan dan menjual produknya. Mereka juga tengah berupaya memasukkan produk ke daerah wisata lain dan bandara di seluruh Tanah Air. Saat ini, sekitar 70 persen konsumennya tergolong orang kaya, sisanya korporat. “Mereka minta dibuatkan miniatur yang berisi produk-produk perusahaan,” kata Burhan.

Kini, pemerintah daerah dan SME’sCo (Small Medium Enterprises Cooperative) telah menunjukkan perhatian terhadap mereka. Bulan depan, kata dia, Konsulat Jenderal RI di Hong Kong akan membawa produk miniatur mereka untuk mengikuti pameran usaha kecil dan menengah di sana. Produk yang dibuat pun meluas ke barang lain yang masih berbau betawi, seperti gerobak kerak telor, kandang kambing, pensil berbentuk ondel-ondel, hingga rumah etnik Cina lengkap dengan gasibu dan naga di atapnya. Desain lain yang tengah dirancang adalah masjid dan jembatan Muara Angke. Sejauh ini, semua produk dibuat dengan bantuan empat orang pekerja dari lingkungan sekitar.

Satu di antaranya bertitel insinyur sipil. Dalam pameran di Pekan Raya Jakarta pada Agustus lalu, seorang investor asal Belanda menyatakan minatnya terhadap produk Artbizz. “Dia minta dibuatkan mainan kincir angin tradisional Indonesia,” kata Tomo. Setelah Lebaran, Oktober nanti semua pesanan dan tawaran kerja sama akan ditindaklanjuti. Meski berukuran mini, karena proses pembuatannya butuh ketelitian ekstra, harga jual produk Artbizz tergolong mahal. Rumah adat Betawi berukuran 30 x 40 sentimeter, misalnya, dihargai Rp 2,5 juta. Miniatur gerobak kerak telor dibanderol Rp 500-700 ribu, dan Rp 10 ribu untuk untuk pensil ondel-ondel. Rieka Rahadian

Sumber : www.tempointeraktif.com

One thought on “Serba Mini dari Betawi

  1. Ping-balik: Liping, miniatu… « fuguhbravoo

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s