Menyulap Kayu Bekas Menjadi Produk Berkelas


Profil Pengrajin Prototipe Harley Davidson Besar Pertama di Dunia

Meskipun pada awalnya ditentang keras oleh anak-anaknya, pak Widodo tetap bersikeras untuk membuat prototipe motor harley davidson dengan ukuran sesuai aslinya. Anaknya, mas Eko dan mas Jono yang sehari-hari membantu ayahnya membuat handicraft prototipe harley ukuran kecil berbagai model, berfikir terlalu sayang membuang-buang bahan kayu karena belum tentu laku di pasar. Sementara dengan hasil produk yang sedang berjalan, membuat berbagai kerajinan ukuran kecil, mereka sudah mulai menikmati hasil yang lumayan.

Dengan bantuan setengah hati dari anak-anaknya dan dibantu juga oleh dua karyawannya, pak Widodo akhirnya dapat menyelesaikan enam buah harley dari potongan kayu sisa. Tantangan berat berikutnya adalah memasarkannya, karena harga per produknya yang terhitung mahal. Momentum perayaan pernikahan anaknya menjadi ajang promosi moge (motor gede) berwarna kayu yang mengkilap itu. Dengan posisi rumahnya yang strategis di pinggir jalan, keenam moge itupun ikut nongkrong di depan rumah menjadi salah satu dekorasi yang tidak lazim pada pesta pernikahan pada umumnya.

Hasil dari pameran amatir dadakan itupun membuahkan hasil yang menggembirakan. Para tamu undangan dan pengguna jalan di depan rumahnya pun mulai berdecak kagum. Satu tamu istimewa yang tidak diundangpun akhirnya datang juga. Seorang buyer dari Perancis yang sedang lewat menyempatkan turun dari kendaraannya untuk singgah setelah melihat sederetan moge coklat itu. Tentu saja bukan untuk ikut resepsi. “Bule bercelana pendek dan berkaos oblong itu tiba-tiba ikut masuk dan bersalaman dengan Bapak serta menyatakan minatnya untuk membeli harley. Akhirnya dia menjadi buyer pertama untuk harley besar kami”, kenang mas Hari.

Pada awal pembuatannya, tahun 2004, sebuah harley besar itu bisa dijual seharga Rp 20 jutaan. Tapi seiring dengan makin banyaknya produk yang diedarkan, per unitnya saat ini hanya bisa dijual seharga Rp 11 jutaan. Meskipun harganya turun, pak Widodo masih dapat mengantongi keuntungan yang cukup mengingat bahan baku yang dugunakan adalah kayu sisa mebel yang murah. Pengerjaanya juga tergolong cepat, yaitu per unit dapat diselesaikan rata-rata dua minggu oleh dua orang tukang.

Tak puas dengan prototipe harley besar yang masih kasar, mulailah keluarga ini membuat harley yang lebih sempurna yang sama persis dari setiap ukuran detilnya dan asesoris yang ada. Untuk menyempurnakan hasil karyanya, tidak segan-segan mereka merogoh kocek yang tidak sedikit untuk melakukan riset. “Jika ada model yang akan dibikin detil, kami menyewa harley ke orang solo atau boyolali untuk kami bawa pulang”, ujar mas Eko. Untuk bisa menjiplak model sampai selesai, biasanya mereka membutuhkan waktu tujuh hingga sepuluh hari, dengan biaya sewa antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari.

Pekerjaan meniru ini tidaklah semudah menjiplak tulisan. Selain membutuhkan waktu lama, ketelitian ekstra juga biaya yang lumayan besar. Apalagi jika contoh yang ingin ditiru tidak mudah ditemukan. Pernah suatu saat ada pesanan dari buyer dari Inggris untuk membuat harley kuno yang saat itu sudah jarang dipakai orang. Setelah meyusuri berbagai showroom dan kolektor moge, akhirnya ditemukanlah barang yang dimaksud di sebuah museum barang kuno di Yogyakarta. Tentu saja harley tersebut tidak bisa diangkut ke Boyolali. Terpaksalah mas Eko menginap beberapa hari di Yogya untuk membuat sketsa motor tersebut, plus harus mengeluarkan Rp 750 ribu untuk membayar fee.

Semangat berinovasi pak Widodo dan keluarga kembali dibuktikan dengan memunculkan produk baru. Kali ini adalah prototipe mobil rollroyce kuno sesuai ukuran aslinya. Produk pertamanya telah selesai dibuat dan dikirimkan ke Inggris pada tanggal 23 Juli 2009, bersamaan dengan kunjungan tim reportase portal PIUMKM ke sana. Harganya juga tak tangung-tanggung, Rp 50 juta per unit. “Yang tidak kami duga sebelumnya adalah beratnya. Mobil tersebut baru bisa diangkat dengan susah-payah oleh 12 orang”, tegas mas Hari. Sementara untuk berat rata-rata harley hanya 150 kg, yang cukup diangkat oleh empat orang.

Pasar untuk moge-nya saat ini sudah sampai ke Afrika Selatan, Inggris, Perancis, dan Amerika Latin. Menjaga kepercayaan buyer dan mitra bisnis adalah salah satu kunci yang dipegang teguh oleh pria berusia 60 tahun beserta anak-anaknya ini. Selain loyalitas dari para buyer, perbankan juga telah memberi kepercayaan penuh untuk mengucurkan kredit. Tantangannya saat ini adalah menata manajemen agar usaha ini menjadi institusi bisnis yang kuat, serta menjaga hak intelektualnya. “Kami sangat mengharapkan bantuan PIUMKM untuk bisa mendapatkan HAKI bagi produk kami”, ujar mas Eko lagi dengan semangat.

Dengan berbekal keterampilan, ketekunan dan semangat berinovasi, pak Widodo dan keluarga yang telah menjalani usaha kerajinannya sejak tahun 1998 ini telah bisa memberi pekerjaan untuk 13 orang karyawannya. Dengan kapasitas produksi 12 unit prototipe moge perbulan, mereka telah dapat memberikan nilai tambah yang signifikan. Mereka telah dapat menyulap seonggok kayu bekas yang tidak bermanfaat bahkan berpotensi mengotori lingkungan menjadi sebuah produk bernilai tinggi yang dapat mengangkat ekonomi lokal. Bahkan sampai saat ini usaha ini diperkirakan masih menjadi satu-satunya di dunia produsen prototipe harley davidson dengan ukuran asli.

Sumber : ppkwu

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s