Manfaatkan Limbah Kelapa Jadi Perabot Menarik

Purworejo – Glugu (batang kelapa) dan bathok (tempurung kelapa) mungkin bagi sebagian orang merupakan limbah yang tidak berguna dan tidak bisa dimanfaatkan. Tapi Sumirah (48), seorang ibu empat anak, berhasil menyulap limbah glugu dan tempurung kelapa menjadi kerajinan perabot rumah tangga yang tidak hanya fungsional tapi juga indah dipandang.

Ketika ditemui di rumahnya di Pangenrejo RT 02/RW 05, semula di tahun 2009, Sumirah hanya memanfaatkan sabut kelapa untuk membuat sapu dan keset, tapi karena kerajinan sapu dan keset sudah menjamur, maka persaingan usaha dirasa semakin ketat. Sumirah mulai berpikir untuk melirik ke kerajinan lain yang lebih unik, sehingga kompetitor yang harus dihadapi pun lebih sedikit.

Beruntung September 2010, Sumirah dan beberapa rekannya yang tergabung dalam kelompok usaha pengrajin “Subur Makmur” di Kelurahan Pangenrejo mendapat pelatihan dan yang didanai Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri Perdesaan (PNPM-MD). Bekerja sama dengan Balai Besar Kerajinan dan Batik (BBKB) Yogyakarta pada Kementerian Perindustrian RI, Sumirah dan rekan-rekannya yang berjumlah 40 orang mulai mendapat pelatihan selama satu minggu. Mereka diajar bagaimana mengolah limbah glugu dan bathok menjadi kerajinan rumah tangga yang komersial.

Hasil dari pelatihan itu kini berbuah manis, Sumirah berhasil membuat berbagai kerajinan perabot rumah tangga yang menarik. Seperti, baki, meja kecil, tempat lampu, meja consol, lampu hias, asbak, tempat tissue dan pigura. Semua barang-barang tadi terbuat dari glugu.

Untuk mempercantik, ia memberikan motif dengan pecahan batok kelapa. Caranya batok kelapa dipecah kecil-kecil, bemudian di rekatkan pada parabot yang telah dibuatnya dengan lem. Untuk membentuk motif yang diinginkan, dilakukan dengan memanfaatkan warna yang ada pada batok. Misalnya bila menghendaki warna gelap, menggunakan batok kelapa yang kering, demikian sebaliknya bila menghendaki warna cerah, memanfaatkan batok kelapa basah.

Setelah itu, baru diamplas hingga rata dan halus. Memasuki tahap finishing, perabot yang sudah jadi diangin-anginkan saja, untuk menghindari agar bahan tidak pecah. Setelah itu baru diplitur atau divernis.

Harga dari hasil kerajinan Sumirah ini pun bervariasi dari mulai Rp50.000, untuk baki dan asbak, hingga Rp110.000, untuk meja lampu dan meja consol. Selain melayani pembelian dan pemesanan barang kerajinannya dirumahnya, Sumirah juga menyalurkan hasil kerajinannya ke sekolah-sekolah dan ke pasar-pasar.

Namun dibalik usahanya yang mulai berkembang, Sumirah masih mengalami beberapa hambatan masalah permodalan dan pemasaran. Oleh karena itu, hingga saat ini Sumirah hanya membuat kerajinan jika ada pesanan kerajinan glugu dan bathok. Tetapi untuk kerajinan seperti sapu, keset dan matras, Sumirah masih memproduksi secara kontinyu, karena dia harus menyediakan stok barang untuk beberapa pelanggan tetapnya.

Kepala Kelurahan Pangenrejo, Rubino, ketika ditemui di kantornya menginformasikan bahwa di wilayahnya dengan jumlah penduduk hampir 4.850 an jiwa terdiri dari 1.385 kepala keluarga (KK). Mereka berdomisili di 7 RW, 16 RT. Terdapat empat industri rumah tangga sekala kecil, dengan melibatkan sekitar 65 tenaga kerja. Mereka begerak dibeberapa bidang usaha seperti pembuatan tempe, jenang/wajik, cilok, kue lompong, dan kerjinan.

Untuk kerjinan, awalnya membuat tas berbahan baku enceng gondog. Namun bahan semakin sulit diperoleh yang berujung melambungnya harga bahan baku. Gayung pun bersambut, tahun 2010 ada PNPM MD yang salah satu itemnya pelatihan sebesar Rp 20 juta. Kesempatan tersebut dimanfaatkan untuk memberikan pelatihan kepada 40 orang warga, bekerja sama dengan BBKB Yogyakarta.

Untuk membantu pemasaran, pihaknya menjalin koordinasi dengan para kepala kelurahan/desa palang gedang. Isinya, apabila membutuhkan bisa membeli di kelompok tersebut. Terkait permodalan, ia hanya bisa menyalurkan ke dinas terkait, seperti Disperindagkop.

Disamping itu, ketua kelompok, Sunaryo, telah menjalin kerja sama dengan beberapa UPTD Dinas Pendidikan dan Kebudayaan di beberapa kecamatan dan sekolah. Pihaknya akan melayani berbagai keperluan sekolah seperti sapu, keset, matras, serta kebutuhan kerajinan lainnya.

Sumber : Indonesia To Day

3 thoughts on “Manfaatkan Limbah Kelapa Jadi Perabot Menarik

  1. Ping-balik: Liping, miniatu… « fuguhbravoo

  2. Apa saya boleh tahu contact person pihak terkait?kami perusahaan jepang yang hendak mencari pernak-pernik khas indonesia untuk kami ekspor ke jepang.
    Mohon info kontak person terkait.Thank You

Leave a comment

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s