Seniman Patung Chicago Michael T. Rea

Michael T. Rea adalah seorang pematung kelahiran South Suburbs of Chicago, yang salah satu karyanya berupa baju perang mekanik dari kayu yang berjudul “A Prosthetic Suit for Stephen Hawking with Japanese Steel.” Walaupun pada awalnya Michael T. Rea adalah seorang pelukis namun dalam setiap karya seni patungnya akan selalu membuat orang berdecak kagum dan ingin melihatnya lebih dekat.

Saat ditanya “kelihatannya karya-karya anda terpengaruhi film-film di Amerika seperti the big over the top blockbuster adventures, like Star Wars, Ghostbusters, or Indiana Jones, apa hubungannya dengan hal tersebut?” …kegemarannya menonton film sejak kecil itu mungkin yang mempengaruhi hingga saya dewasa…jawabnya”

Secara konsep, karya Michael T. Rea banyak dipengaruhi oleh film-film di Amerika, hampir semua dibuat dari kayu. Dan pada  karya Rea berjudul “A Prosthetic Suit For Stephen Hawking with Japanese Steel”. Dia membuat robot setinggi delapan kaki yang mirip dengan Gundam Suit, muncul setelah Rea melihat film besutan Quentin Tarantino.

Karyanya tampaknya merupakan penggabungan fantasi seni dan reaksinya terhadap teknologi modern, yang ia menafsirkannya secara rinci tanpa mengacu pada foto atau model.

Semoga Menginspirasi…

Baca Selengkapnya di Interview – Michael T. Rea
Source Photo :
 - Art/Suit for Stephen Hawking   
 - A Prosthetic Suit For Stephen Hawking w/ Japanese Steel
 - Michael T. Rea
Iklan

Sulap Limbah Jadi Patung, Ekspor ke Jepang

KAYU kelengkeng yang sudah terpakai, oleh masyarakat kebanyakan warga digunakan untuk bahan baku pembuatan. Namun tidak demikian dengan apa yang dilakukan warga Dusun Gelaran, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kayu-kayu kelengkeng tersebut ternyata dapat menghasilkan pendapatan besar, yaitu dengan dijadikannya menjadi kerajinan dengan nilai seni tinggi.

Salah seorang pengrajin, Aries (48), ketika ditemui Harsem menjelaskan, dirinya mengaku merupakan satu-satunya warga Kenteng yang mengubah limbah kayu kelengkeng menjadi kerajinan. Dari tangan kreatifnya, kayu-kayu yang sudah tidak dipakai lagi dibuat patung, hiasan dinding hingga perabotan rumah tangga. Ditambahkan, dia menggeluti kerajinan dari limbah kayu kelengkeng ini sudah sejak 10 tahun lalu. Ketika itu melihat banyaknya kayu kelengkeng di Bandungan yang terbuang sia-sia bahkan hanya dibuat untuk areag saja. Dari sinilah akhirnya, dirinya memutar otak untuk menggeluti usaha kerajinan dari limbah kayu kelengkeng. “Dari menekuni usaha kerajinan ini, akhirnya saya mendapatkan penghasilan.

Bahkan, banyak orang yang akhirnya tertarik dengan hasil karyanya itu. Untuk mendapatkan kayu kelengkeng itu, saya harus keliling ke masyarakat yang mempunyai limbah kayu kelengkeng di sekitar Bandungan. Mudah mencari kayu kelengkeng itu, karena Bandungan penghasil kelengkeng,” jelasnya. Menurutnya, dirinya hingga sekarang ini belum pernah mengalami kehabisan bahan baku. Sekarang sudah banyak warga yang mendatangi tempat usahanya untuk menawarkan limbah kayu kelengkeng. Limbah kayu ini, oleh pemiliknya sebelum saya ambil sebagian besar justru diantarkan ke tempat usahanya untuk dibeli. Bukan hanya, penjual kayu kelengkeng tetapi para pembeli kerajinannya sekarang juga banyak yang datang ke tempat usahanya. Ditambahkan, awalnya pihaknya merasa kesulitan untuk mendapatkan limbah kayu kelengkeng tersebut.

Hal itu terkait dengan modal usaha. Pihaknya juga mengaku jika dalam menekuni usaha itu tidak pernah mengandalkan pinjaman dari bank. Modal miliknya dari hasil menabung sedikit demi sedikit serta dengan niat yang tulus berusaha. Ppemasaran awalnya menjadi kendala, namun kini sirna dengan sendirinya.

Konsumen sekarang banyak yang datang langsung membeli kerajinan miliknya. Beberapa tahun ini, hasil kerajinannya telah dikirimkan keluar negeri, di antaranya Jepang dan Austria. “Kalau melihat hasil karya saya ini, banyak orang tertegun. Begitu pula, pihak Pemkab Semarang telah mengetahui usaha yang saya geluti ini. Namun, uluran tangan untuk memberikan bantuan modal hingga sekarang juga tidak pernah ada wujudnya,” jelasnya. Namun, menurut dia, hal itu tak menjadi masalah. “Tanpa campur tangan pemerintah, saya masih tetap bisa bertahan menggeluti usaha kerajinan limbah kayu kelengkeng ini,” jelasnya.

Sumber : Harian Semarang

Liping, miniatur unik kehidupan manusia sehari-hari

Rongsokan, bisa berarti barang tak terpakai, sampah, atau benda-benda yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi. Apakah semua rongsokan tak bernilai? Nanti dulu, Maryono memiliki cara meningkatkan nilai ekonomisnya. Lelaki kelahiran Solo ini juga memiliki cara yang sederhana untuk mencari nafkah. Ia membuat seni liping, yaitu seni yang memadukan antara seni patung dan dekoratif ini dengan bahan-bahan campuran, bisa berupa batu, kerikil, bambu atau sampah-sampah yang tidak terpakai di sekitar rumahnya, termasuk rumput-rumput kering dan dedaunan yang jatuh ditepa angin.

“Pokoknya apa saja yang saya temui saya upayakan dapat digunakan sebagai materiil karya seni,” ujar lulusan STM ini. Tentu anda bisa membayangkan bahan-bahan sampah jika menjadi karya seni harganya tentu naik berkali-kali. Bahan-bahan tersebut menurut Maryono tak susah mencarinya. Tinggal bagaimana ia mengkreasikan mau dibuat seperti apa.

Suatu hari Maryono mampu menjual karyanya sebesar Rp50ribu hingga Rp500ribu per buah. Penggemarnya para kolektor seni, atau setidaknya orang-orang yang memahami seni untuk mempercantik dinding rumahnya. Lihatlah pengakuannya. Tahun 2004 ketika ia memulai usaha, omzetnya sudah mencapai Rp30juta per tahun. Tahun 2005 omzetnya naik menjadi 70juta per tahun, dan tahun 2007 dan 2008 rata-rata sudah mencapai Rp150juta per tahun.

Tentu bukan cara yang mudah untuk mencapai ini semua. Ada mimpi, ketekunan, kerja keras, dan ikhtiar yang besar yang dilakukannya hingga mencapai semua ini. Anda bisa. Tentu saja bisa sepanjang anda mau melakukannya. Jika ia dalam sehari, dibantu karyawannya kini mampu memproduksi tak kurang dari 100 buah kerajinan liping dalam sehari, tentu omzetnya sudah bisa dihitung. Seni liping adalah sebuah karya sederhana tentang hal-hal sederhana yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Ini bukti bahwa bisnis bukan urusan yang rumit dan njlimet.

Kerajinan ini berbentuk miniatur aktivitas warga sehari – harinya yang disebut liping. Salah satu kreasi Bejo Wage, warga Jalan Kencur, Tenggosari Lowoyan, Solo adalah papan permainan catur.

Kreasi ini cukup unik karena seluruh bidak catur berupa miniatur pasukan perang. Point berupa miniatur dari prajurit kerajaan yang terdiri dari pasukan panah dan pasukan anti huru – hara, lengkap dengan pakaian keprajuritan.

Demikian juga dengan menteri, pasukan berkuda, benteng, patih dan raja atau ratu. Bahan dasar miniatur unik ini adalah kayu pinus. Untuk membuat karya seperti ini memang tidak hanya dibutuhkan keterampilan tapi juga ketelitian, sebab ukuran miniatur tergolong kecil sehingga harus benar – benar konsentrasi.

Selain miniatur bidak catur, karya lain yang juga mengagumkan adalah miniatur pagelaran wayang kulit. Bejo menyajikan miniatur ini secara lengkap, mulai dalang, waranggana serta para penabuh gamelan, seperti gong, bonang, pemain rebab, suling dan gambang.

Menurut Bejo, kreasinya ini disebut kerajinan liping, yang merupakan pelesetan dari kata living. Sebab semua karyanya bercerita tentang kehidupan sehari – hari masyarakat tradisional, misalnya petani membajak sawah, mengembala bebek, orang menimba air disumur atau orang yang sedang kerokan.

Bejo mengaku usaha kerajinan ini dirintisnya sejak tahun 2002, namun baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Selain Solo, kerajinannya dipasarkan ke Yogyakarta, Semarang, Jakarta dan Bali dengan harga dari mulai 25 ribu rupiah hingga 2 juta rupiah tergantung tingkat kerumitannya.

Sumber : kabarsoloraya.com

Lukisan Serbuk Gergaji

Bagi kebanyakan orang, serbuk gergaji atau grajen lebih sering dianggap sebagai barang buangan. Status ekonominya tidak lebih dari limbah industri kayu atau paling tinggi sebagai media tanam untuk budi daya jamur. Namun siapa sangka grajenbisa dijadikan media lukisan di atas kanvas.

“Dulu saya pernah mau membeli grajen dari sebuah penggergajian kayu. Jumlahnya lumayan banyak, satu sak. Tapi pemiliknya malah bilang, ‘dibawa pulang saja’,” kata Sutrisno alias Tresno Arti, pelukis yang menekuni pembuatan karya seni dari grajen.

Dulu Tresno adalah seorang pengrajin berbagai suvenir seperti kotak pensil, bingkai foto dan barang-barang fungsional lainnya. Di tangannya, barang-barang tersebut dibuat dengan sentuhan yang berbeda dengan produk tangan orang lain. Kerajinannya menjadi khas karena faktor grajen, limbah kayu yang semula tidak dihargai oleh banyak orang. Hampir seluruh kerajinannya saat itu berasal dari bahan kertas namun permukaannya ditutup dengan lapisan grajen yang tebal.

Produk kerajinannya tergolong berhasil diterima pasar namun setelah tiga tahun lamanya dia merasa butuh tantangan baru. Sejak setahun lalu, dia mencoba membuat sesuatu yang baru dan belum pernah dibuat oleh pengrajin mana pun. Jenuh dengan membuat benda-benda kecil, lulusan Desain Grafis UNS ini mencoba melukis. Namun sekali lagi lukisannya tak jauh-jauh dari bubuk gergaji kayu.

“Dulu orang sempat sangsi dengan lukisan grajen, apakah nanti tidak berjamur. Tapi nyatanya memang tidak begitu,” katanya.

Keraguan orang memang sudah terjawab lewat berbagai karya yang dihasilkan dari serbuk grajen ini. Meskipun teknik pembuatan lukisan ini belum pernah populer, Tresno telah membuktikan bahwa kreativitas baru ini bisa diterima oleh khalayak. Tresno tampak percaya diri dengan karyanya dan terus menghasilkan karya baru setiap pekan tanpa menunggu pesanan datang. Hasilnya dia bawa ke Pasar Malam Ngarsapura setiap akhir pekan.

Hasil akhir lukisannya memang sudah tidak menampakkan wujud asli grajen yang digunakan meskipun warnanya masih seperti serbuk kayu. Grajen membuat lukisan tampak timbul dan menimbulkan kesan tiga dimensi. Kesan tiga dimensi itu makin kuat dengan hadirnya beberapa unsur yang dibuat dari akar wangi, seperti manusia, becak, tiang, gubuk, rumah dan pepohonan.

“Itu hasil dari eksplorasi yang terus-menerus. Kalau saya menyebut ini aliran impresionis, soalnya saya mengandalkan kontras warna,” terang Tresno. Kontras warna memang menjadi andalannya. Hal ini bukan tanpa alasan karena sifat grajen yang hanya memiliki satu warna. Artinya, Tresno hanya bisa mengandalkan grajen untuk menunjukkan gelap terang sebuah objek. Objek lukisannya pun tampak menyesuaikan diri. Lukisannya lebih banyak bercerita tentang kampung, gubuk, Solo tempo dulu dan objek klasik lainnya. Grajen menuangkan warna kayu yang memperkuat kesan kuno dan klasik pada objek-objek itu.

Sumber : www.solopos.com

Vas Bunga dari Sampah Plastik

Dari bengkel kerja sederhana miliknya, Achmad Iskandar mampu memproduksi lebih dari 900 vas bunga setiap bulan. Barang yang terbuat dari plastik bekas itu dijual ke sejumlah daerah di Kalimantan Timur. Kini, keinginannya hanya satu, yakni memperbesar produksi dan pasar.

Ide bapak enam anak untuk berkecimpung dengan sampah plastik berawal dari ketika dirinya mengikuti kegiatan pameran dalam rangka Hari Lingkungan Hidup Tingkat Nasional di Balikpapan, Kalimantan Timur, Juli 2008. Saat itu, Iskandar yang mewakili Pemerintah Kota Balikpapan melihat banyak produk daur ulang dari daerah lain yang ikut dipamerkan.

Namun, sepanjang mata memandang, produk daur ulang tersebut wujudnya konvensional, mulai dari taplak meja, tas plastik, hingga produk lainnya yang sudah banyak di pasaran. Saat itulah Iskandar yang sebelumnya menggeluti tanaman hias tebersit untuk membuat sesuatu yang berbeda dan lebih baik daripada yang ada. Jatuhlah pilihan membuat vas bunga.

Ia pun kemudian mempelajari berbagai hal tentang plastik. Ia mencoba mencari tahu apa saja yang bisa dibuat dari sampah plastik, bagaimana mengolahnya, hingga bahaya apa yang bisa ditimbulkan olehnya. Iskandar menghabiskan waktu beberapa bulan untuk uji coba sebelum akhirnya berhasil membuat produk yang dianggap sempurna.

Ditemui di rumahnya, Jalan AMD Sungai Ampal Nomor 68, Kota Balikpapan, Senin (16/8/2010), lelaki kelahiran Muara Muntai, 57 tahun silam, ini menunjukkan sejumlah vas bunga buatannya. Ada sekitar 20 macam bentuk, mulai dari yang berukuran tinggi 25 sentimeter dengan diameter 12 sentimeter hingga tinggi 45 sentimeter dengan diameter 40 sentimeter.

Barang daur ulang itu dicat dan diberi gambar, antara lain bunga hingga motif khas Dayak. Selain vas bunga, Iskandar juga mencoba membuat produk lain berupa tiruan batu alam atau yang biasa disebut marmoMarmo biasa ditempel pada dinding rumah sebagai ornamen ataupun yang sekadar untuk melapisi lantai seperti ubin.

Oleh Iskandar, produknya dijual mulai dari Rp 25.000 per buah untuk vas bunga dan Rp 175.000 per meter persegi untuk marmo. Selain ke pasar, ia menjual produknya ke kantor-kantor pemerintah daerah dan pameran. ”Sejauh ini pemasarannya baru sampai ke Samarinda, Bontang, Sanggata, dan Tenggarong. Itu pun persentasenya lebih besar vas bunga,” ujarnya.

Semua proses peleburan sampah plastik ini memanfaatkan peralatan manual berupa kompor gas dan wajan berdiameter 18 inci. Ada empat set kompor gas di bengkel Iskandar. Cara melelehkan plastik pun cukup singkat. Untuk meleburkan satu wajan plastik diperlukan waktu sekitar 20 menit, sementara untuk proses pembentukan dibutuhkan waktu 10 menit.

Sampah plastik dari berbagai jenis itu sebelumnya dipilah menjadi tiga bagian, yakni plastik padat, seperti botol oli; plastik lunak, seperti botol air mineral; dan plastik berlapis foil, seperti bungkus makanan kecil. Setelah itu sampah yang memiliki rongga, seperti botol minyak pelumas, dipotong kecil-kecil agar tidak memakan tempat.

”Dari tiga bagian plastik ini kemudian dicampur dengan perbandingan tertentu. Perbandingan ini cukup penting agar plastik bisa bercampur dengan baik dan mengeras. Sebab, jika kebanyakan sampah padat, tidak akan jadi,” ujarnya.

Untuk sekali proses peleburan, Iskandar bisa menghabiskan 150-200 kilogram sampah plastik tergantung persediaan. Dari jumlah itu tercipta sekitar 300 vas dengan rincian satu vas bunga memerlukan bahan baku 0,5 kilogram sampah.

Diakui, ketersediaan sampah plastik menjadi salah satu kendala yang dihadapi. Kota Balikpapan yang cukup kecil, dengan jumlah warga yang tidak terlalu besar, membuat sampah yang dihasilkan masih terbatas. Karena itu, Iskandar mencoba strategi dengan cara merangkul ibu rumah tangga dan pemulung sebagai pemasok utama bahan baku.

Iskandar pun mensosialisasikan kepada warga di Kelurahan Sumberejo—wilayah tempat ia tinggal—tentang pentingnya sampah plastik. Warga diingatkan agar memilih dan mengumpulkan sampah yang masih bisa digunakan. Sampah yang terkumpul itu diantar ke rumah Iskandar. Sebagai bentuk penghargaan dan memotivasi warga, Iskandar membayar Rp 1.000 untuk setiap kilogram sampah.

”Sebelumnya saya hanya membeli sampah seharga Rp 500 per kilogram dari warga di kota dan Rp 1.000 untuk warga yang berada di pinggir laut. Tujuannya agar warga tidak membuang sampah ke laut. Namun, dalam perkembangannya, warga yang berada di kota kurang termotivasi untuk mengumpulkan sampah. Akhirnya, sejak satu tahun lalu harganya disamakan,” katanya.

Selain bahan baku, kendala lain yang dihadapi Iskandar adalah minimnya peralatan. Dengan peralatan yang ada saat ini jelas sekali produk yang dihasilkan masih terbatas. Karena itu, sejumlah upaya telah dilakukan untuk mewujudkan usaha yang lebih besar dengan alat-alat pabrikan, salah satunya membuat badan hukum usaha menjadi CV Prima Executive dengan maksud untuk memperkuat posisi ketika ada pihak ketiga yang ingin bekerja sama.

Mendaur ulang sampah menjadi barang baru bukan saja menjadi solusi untuk menciptakan lapangan pekerjaan baru karena Iskandar sudah memiliki enam karyawan. Lebih dari itu, membuat produk daur ulang adalah upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Sumber : Bisnis Keuangan Kompas & Mozaik Plastik

Inlay Meubel Khas Madura Rambah Mancanegara

Berbagai macam jenis seni ukir menjadi salah satu bentuk kekayaan negeri kita. Tak terkecuali seni ukir Meubel Inlay dari Bangkalan Madura, yang dibuat dari kayu jati bekas. Keunikan furniture ini, terletak pada irisan rotan, yang ditanamkan dalam pahatan ukiran, sehingga membentuk motif menarik, dan tentu saja unik.

Seni ukir Meubel Inlay terbuat dari kayu jati bekas yang sudah tua. Kayu jati bekas tersebut dibeli dari warga yang kebetulan membongkar rumah dan hendak dibangun dengan yang lebih baru. Karena kayu bekas, kayu-kayu ini pun harus dibersihkan terlebih dahulu dari paku-paku yang tertancap. Dan selanjutnya dihaluskan.

Barulah kayu jati bekas ini pun dipermak menjadi beragam bentuk meubel. Awalnya dilakukan pemahatan dengan berbagai macam model ukiran. Namun rata-rata berbentuk ukiran bunga. Nah, kemudian pada bekas pahatan ditanamkan batangan rotan, yang telah diserut tipis agar melekat kuat.

Pengrajin Meubel Inlay asal Desa Pocong, Kecamatan Trageh, Nurrohman mengatakan, keunikan Meubel Inlay menjadi ciri khas gaya meubel Madura khas kota Bangkalan. Nama inlay berasal dari ucapan seorang turis manca negara, ketika melihat pertama kali seni ukir ini. Karena kagum sekaligus tidak percaya, turis tersebut bilang, its a lie.

Nurrohman yang tidak mengerti bahasa Inggris, hanya tersenyum. Dan sejak itu pula, lontaran kalimat its a lie tersebut, berubah menjadi inlay, serta menjadi nama seni ukir baru ini.

Awal usahanya pada tahun1994. saat itu ia mencoba mengumpulkan kayu jati bekas dari salah satu rumah kerabatnya, untuk dibentuk menjadi sebuah lemari. Bermodal keahlian melukis dan mengukir, Nurrohman mulai memberi sentuhan berupa gambar motif ukir.

Namun, usahanya tidak berjalan lancar. Pasalnya, bahan yang digunakan untuk menggambar pada lemari buatannya, luntur. Ia memutuskan membuat ukiran menggunakan alat menyerupai pisau kecil yang disebut pahat kayu. Pahat inilah yang dijadikan ‘pena’ untuk mengukir dengan kedalaman mencapai dua milimeter.

Menurut Nurrohman, seni ukir Meubel Inlay, haruslah dari kayu jati tua, meski itu bekas sekalipun. Hal ini dikarenakan, kayu jati tua sudah sangat kering dan tentu saja semakin kuat. “Di sinilah kelebihan dari meubel inlay yang selalu terjaga dan menjadi ciri khasnya”, ujarnya.

Selain dipasarkan secara lokal, hasil kerajinan meubel seni ukir inlay, juga mulai merambah ke Bali. Dari pulau Dewata itulah, meubel seni ukir inlay dipasarkan hingga ke Eropa maupun ke Amerika.

Nurrohman mengakui, hasil kerajinan Meubel Inlay, memang rata-rata diserap oleh kalangan menengah ke atas, karena nilai jualnya yang cukup tinggi, yakni antara Dua Juta hingga Puluhan Juta Rupiah. Untuk satu set produk terdiri dari kursi dan meja tamu, ditawarkan seharga Lima Juta Rupiah.

Sumber : www.berita86.com