Seniman Patung Chicago Michael T. Rea

Michael T. Rea adalah seorang pematung kelahiran South Suburbs of Chicago, yang salah satu karyanya berupa baju perang mekanik dari kayu yang berjudul “A Prosthetic Suit for Stephen Hawking with Japanese Steel.” Walaupun pada awalnya Michael T. Rea adalah seorang pelukis namun dalam setiap karya seni patungnya akan selalu membuat orang berdecak kagum dan ingin melihatnya lebih dekat.

Saat ditanya “kelihatannya karya-karya anda terpengaruhi film-film di Amerika seperti the big over the top blockbuster adventures, like Star Wars, Ghostbusters, or Indiana Jones, apa hubungannya dengan hal tersebut?” …kegemarannya menonton film sejak kecil itu mungkin yang mempengaruhi hingga saya dewasa…jawabnya”

Secara konsep, karya Michael T. Rea banyak dipengaruhi oleh film-film di Amerika, hampir semua dibuat dari kayu. Dan pada  karya Rea berjudul “A Prosthetic Suit For Stephen Hawking with Japanese Steel”. Dia membuat robot setinggi delapan kaki yang mirip dengan Gundam Suit, muncul setelah Rea melihat film besutan Quentin Tarantino.

Karyanya tampaknya merupakan penggabungan fantasi seni dan reaksinya terhadap teknologi modern, yang ia menafsirkannya secara rinci tanpa mengacu pada foto atau model.

Semoga Menginspirasi…

Baca Selengkapnya di Interview – Michael T. Rea
Source Photo :
 - Art/Suit for Stephen Hawking   
 - A Prosthetic Suit For Stephen Hawking w/ Japanese Steel
 - Michael T. Rea
Iklan

17 Tahun Mengukir Model Kapal HMS Victory

Pematung Ian Brennan telah menghabiskan 5.000 jam, selama 17 tahun, mengukir dari sepotong kayu ke dalam replika miniatur dari kapal Laksamana Nelson’s HMS Victory yang terkenal.

Brennan (60thn), yang berasal dari Warsash, Inggris, dan pada umur ke 34 dia menekuni sebagai seorang pematung /seni ukir. Setelah lima tahun ia menjadi pematung dari Keluarga Kerajaan Inggris (Royal House), sehingga akhirnya mendapatkan pekerjaan melakukan restorasi pada kapal HMS Victory yang sesungguhnya, selama satu tahun.

Sebagai penghargaan atas pekerjaan yang telah dilakukannya dengan baik, Ian Brennan menerima sepotong kayu dari kapal HMS Victory yang legendaris, yang kemudian dia memutuskan untuk menggunakannya sebagai bahan dasar membuat replika/ miniatur kapal HMS Victory skala kecil.

Mungkin anda berpikir bahwa kayu tua yang telah berabad-abad akan lebih mudah untuk diukir, karena diambil dari bagian tertentu dari sebuah kayu, kayu tersebut menjadi keras seperti beton dan hal tersebut menjadi pekerjaan tersendiri bagi Ian Brennan yang harus meluangkan banyak waktu selama 5.000 jam, selama 17 tahun. Di mana selama itu ia sendirian mengerjakan setiap detailnya secara keseluruhan berulang-ulang agar mirip seperti kapal HMS Victory yang asli, yang dilengkapi 104 senjata, 37 layar, bendera berserta 200 feet (kaki) tali temali yang rumit.

Ian Brennan menyadari bahwa ia hanya memiliki satu kesempatan untuk melakukan pekerjaan seperti ini, karena ia tidak akan pernah lagi mendapatkan potongan kayu dari HMS Victory asli, sehingga ia harus memastikan 47-inci replika nya haruslah sempurna. Keluarganyapun sangat mendukung sepanjang 17 tahun bekerja, meskipun ia yakin istrinya Suzanne ingin suaminya menghabiskan lebih banyak waktu luangnya bersamanya.

English: HMS Victory

English: HMS Victory (Photo credit: Wikipedia)

Baca Selengkapnya di Victory Sculpture
Source Photo : Daily Mail and  VictorySculpture.com 

Sulap Limbah Jadi Patung, Ekspor ke Jepang

KAYU kelengkeng yang sudah terpakai, oleh masyarakat kebanyakan warga digunakan untuk bahan baku pembuatan. Namun tidak demikian dengan apa yang dilakukan warga Dusun Gelaran, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang. Kayu-kayu kelengkeng tersebut ternyata dapat menghasilkan pendapatan besar, yaitu dengan dijadikannya menjadi kerajinan dengan nilai seni tinggi.

Salah seorang pengrajin, Aries (48), ketika ditemui Harsem menjelaskan, dirinya mengaku merupakan satu-satunya warga Kenteng yang mengubah limbah kayu kelengkeng menjadi kerajinan. Dari tangan kreatifnya, kayu-kayu yang sudah tidak dipakai lagi dibuat patung, hiasan dinding hingga perabotan rumah tangga. Ditambahkan, dia menggeluti kerajinan dari limbah kayu kelengkeng ini sudah sejak 10 tahun lalu. Ketika itu melihat banyaknya kayu kelengkeng di Bandungan yang terbuang sia-sia bahkan hanya dibuat untuk areag saja. Dari sinilah akhirnya, dirinya memutar otak untuk menggeluti usaha kerajinan dari limbah kayu kelengkeng. “Dari menekuni usaha kerajinan ini, akhirnya saya mendapatkan penghasilan.

Bahkan, banyak orang yang akhirnya tertarik dengan hasil karyanya itu. Untuk mendapatkan kayu kelengkeng itu, saya harus keliling ke masyarakat yang mempunyai limbah kayu kelengkeng di sekitar Bandungan. Mudah mencari kayu kelengkeng itu, karena Bandungan penghasil kelengkeng,” jelasnya. Menurutnya, dirinya hingga sekarang ini belum pernah mengalami kehabisan bahan baku. Sekarang sudah banyak warga yang mendatangi tempat usahanya untuk menawarkan limbah kayu kelengkeng. Limbah kayu ini, oleh pemiliknya sebelum saya ambil sebagian besar justru diantarkan ke tempat usahanya untuk dibeli. Bukan hanya, penjual kayu kelengkeng tetapi para pembeli kerajinannya sekarang juga banyak yang datang ke tempat usahanya. Ditambahkan, awalnya pihaknya merasa kesulitan untuk mendapatkan limbah kayu kelengkeng tersebut.

Hal itu terkait dengan modal usaha. Pihaknya juga mengaku jika dalam menekuni usaha itu tidak pernah mengandalkan pinjaman dari bank. Modal miliknya dari hasil menabung sedikit demi sedikit serta dengan niat yang tulus berusaha. Ppemasaran awalnya menjadi kendala, namun kini sirna dengan sendirinya.

Konsumen sekarang banyak yang datang langsung membeli kerajinan miliknya. Beberapa tahun ini, hasil kerajinannya telah dikirimkan keluar negeri, di antaranya Jepang dan Austria. “Kalau melihat hasil karya saya ini, banyak orang tertegun. Begitu pula, pihak Pemkab Semarang telah mengetahui usaha yang saya geluti ini. Namun, uluran tangan untuk memberikan bantuan modal hingga sekarang juga tidak pernah ada wujudnya,” jelasnya. Namun, menurut dia, hal itu tak menjadi masalah. “Tanpa campur tangan pemerintah, saya masih tetap bisa bertahan menggeluti usaha kerajinan limbah kayu kelengkeng ini,” jelasnya.

Sumber : Harian Semarang

Liping, miniatur unik kehidupan manusia sehari-hari

Rongsokan, bisa berarti barang tak terpakai, sampah, atau benda-benda yang sudah tidak memiliki nilai ekonomi lagi. Apakah semua rongsokan tak bernilai? Nanti dulu, Maryono memiliki cara meningkatkan nilai ekonomisnya. Lelaki kelahiran Solo ini juga memiliki cara yang sederhana untuk mencari nafkah. Ia membuat seni liping, yaitu seni yang memadukan antara seni patung dan dekoratif ini dengan bahan-bahan campuran, bisa berupa batu, kerikil, bambu atau sampah-sampah yang tidak terpakai di sekitar rumahnya, termasuk rumput-rumput kering dan dedaunan yang jatuh ditepa angin.

“Pokoknya apa saja yang saya temui saya upayakan dapat digunakan sebagai materiil karya seni,” ujar lulusan STM ini. Tentu anda bisa membayangkan bahan-bahan sampah jika menjadi karya seni harganya tentu naik berkali-kali. Bahan-bahan tersebut menurut Maryono tak susah mencarinya. Tinggal bagaimana ia mengkreasikan mau dibuat seperti apa.

Suatu hari Maryono mampu menjual karyanya sebesar Rp50ribu hingga Rp500ribu per buah. Penggemarnya para kolektor seni, atau setidaknya orang-orang yang memahami seni untuk mempercantik dinding rumahnya. Lihatlah pengakuannya. Tahun 2004 ketika ia memulai usaha, omzetnya sudah mencapai Rp30juta per tahun. Tahun 2005 omzetnya naik menjadi 70juta per tahun, dan tahun 2007 dan 2008 rata-rata sudah mencapai Rp150juta per tahun.

Tentu bukan cara yang mudah untuk mencapai ini semua. Ada mimpi, ketekunan, kerja keras, dan ikhtiar yang besar yang dilakukannya hingga mencapai semua ini. Anda bisa. Tentu saja bisa sepanjang anda mau melakukannya. Jika ia dalam sehari, dibantu karyawannya kini mampu memproduksi tak kurang dari 100 buah kerajinan liping dalam sehari, tentu omzetnya sudah bisa dihitung. Seni liping adalah sebuah karya sederhana tentang hal-hal sederhana yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Ini bukti bahwa bisnis bukan urusan yang rumit dan njlimet.

Kerajinan ini berbentuk miniatur aktivitas warga sehari – harinya yang disebut liping. Salah satu kreasi Bejo Wage, warga Jalan Kencur, Tenggosari Lowoyan, Solo adalah papan permainan catur.

Kreasi ini cukup unik karena seluruh bidak catur berupa miniatur pasukan perang. Point berupa miniatur dari prajurit kerajaan yang terdiri dari pasukan panah dan pasukan anti huru – hara, lengkap dengan pakaian keprajuritan.

Demikian juga dengan menteri, pasukan berkuda, benteng, patih dan raja atau ratu. Bahan dasar miniatur unik ini adalah kayu pinus. Untuk membuat karya seperti ini memang tidak hanya dibutuhkan keterampilan tapi juga ketelitian, sebab ukuran miniatur tergolong kecil sehingga harus benar – benar konsentrasi.

Selain miniatur bidak catur, karya lain yang juga mengagumkan adalah miniatur pagelaran wayang kulit. Bejo menyajikan miniatur ini secara lengkap, mulai dalang, waranggana serta para penabuh gamelan, seperti gong, bonang, pemain rebab, suling dan gambang.

Menurut Bejo, kreasinya ini disebut kerajinan liping, yang merupakan pelesetan dari kata living. Sebab semua karyanya bercerita tentang kehidupan sehari – hari masyarakat tradisional, misalnya petani membajak sawah, mengembala bebek, orang menimba air disumur atau orang yang sedang kerokan.

Bejo mengaku usaha kerajinan ini dirintisnya sejak tahun 2002, namun baru berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Selain Solo, kerajinannya dipasarkan ke Yogyakarta, Semarang, Jakarta dan Bali dengan harga dari mulai 25 ribu rupiah hingga 2 juta rupiah tergantung tingkat kerumitannya.

Sumber : kabarsoloraya.com

Lukisan Serbuk Gergaji

Bagi kebanyakan orang, serbuk gergaji atau grajen lebih sering dianggap sebagai barang buangan. Status ekonominya tidak lebih dari limbah industri kayu atau paling tinggi sebagai media tanam untuk budi daya jamur. Namun siapa sangka grajenbisa dijadikan media lukisan di atas kanvas.

“Dulu saya pernah mau membeli grajen dari sebuah penggergajian kayu. Jumlahnya lumayan banyak, satu sak. Tapi pemiliknya malah bilang, ‘dibawa pulang saja’,” kata Sutrisno alias Tresno Arti, pelukis yang menekuni pembuatan karya seni dari grajen.

Dulu Tresno adalah seorang pengrajin berbagai suvenir seperti kotak pensil, bingkai foto dan barang-barang fungsional lainnya. Di tangannya, barang-barang tersebut dibuat dengan sentuhan yang berbeda dengan produk tangan orang lain. Kerajinannya menjadi khas karena faktor grajen, limbah kayu yang semula tidak dihargai oleh banyak orang. Hampir seluruh kerajinannya saat itu berasal dari bahan kertas namun permukaannya ditutup dengan lapisan grajen yang tebal.

Produk kerajinannya tergolong berhasil diterima pasar namun setelah tiga tahun lamanya dia merasa butuh tantangan baru. Sejak setahun lalu, dia mencoba membuat sesuatu yang baru dan belum pernah dibuat oleh pengrajin mana pun. Jenuh dengan membuat benda-benda kecil, lulusan Desain Grafis UNS ini mencoba melukis. Namun sekali lagi lukisannya tak jauh-jauh dari bubuk gergaji kayu.

“Dulu orang sempat sangsi dengan lukisan grajen, apakah nanti tidak berjamur. Tapi nyatanya memang tidak begitu,” katanya.

Keraguan orang memang sudah terjawab lewat berbagai karya yang dihasilkan dari serbuk grajen ini. Meskipun teknik pembuatan lukisan ini belum pernah populer, Tresno telah membuktikan bahwa kreativitas baru ini bisa diterima oleh khalayak. Tresno tampak percaya diri dengan karyanya dan terus menghasilkan karya baru setiap pekan tanpa menunggu pesanan datang. Hasilnya dia bawa ke Pasar Malam Ngarsapura setiap akhir pekan.

Hasil akhir lukisannya memang sudah tidak menampakkan wujud asli grajen yang digunakan meskipun warnanya masih seperti serbuk kayu. Grajen membuat lukisan tampak timbul dan menimbulkan kesan tiga dimensi. Kesan tiga dimensi itu makin kuat dengan hadirnya beberapa unsur yang dibuat dari akar wangi, seperti manusia, becak, tiang, gubuk, rumah dan pepohonan.

“Itu hasil dari eksplorasi yang terus-menerus. Kalau saya menyebut ini aliran impresionis, soalnya saya mengandalkan kontras warna,” terang Tresno. Kontras warna memang menjadi andalannya. Hal ini bukan tanpa alasan karena sifat grajen yang hanya memiliki satu warna. Artinya, Tresno hanya bisa mengandalkan grajen untuk menunjukkan gelap terang sebuah objek. Objek lukisannya pun tampak menyesuaikan diri. Lukisannya lebih banyak bercerita tentang kampung, gubuk, Solo tempo dulu dan objek klasik lainnya. Grajen menuangkan warna kayu yang memperkuat kesan kuno dan klasik pada objek-objek itu.

Sumber : www.solopos.com

Inlay Meubel Khas Madura Rambah Mancanegara

Berbagai macam jenis seni ukir menjadi salah satu bentuk kekayaan negeri kita. Tak terkecuali seni ukir Meubel Inlay dari Bangkalan Madura, yang dibuat dari kayu jati bekas. Keunikan furniture ini, terletak pada irisan rotan, yang ditanamkan dalam pahatan ukiran, sehingga membentuk motif menarik, dan tentu saja unik.

Seni ukir Meubel Inlay terbuat dari kayu jati bekas yang sudah tua. Kayu jati bekas tersebut dibeli dari warga yang kebetulan membongkar rumah dan hendak dibangun dengan yang lebih baru. Karena kayu bekas, kayu-kayu ini pun harus dibersihkan terlebih dahulu dari paku-paku yang tertancap. Dan selanjutnya dihaluskan.

Barulah kayu jati bekas ini pun dipermak menjadi beragam bentuk meubel. Awalnya dilakukan pemahatan dengan berbagai macam model ukiran. Namun rata-rata berbentuk ukiran bunga. Nah, kemudian pada bekas pahatan ditanamkan batangan rotan, yang telah diserut tipis agar melekat kuat.

Pengrajin Meubel Inlay asal Desa Pocong, Kecamatan Trageh, Nurrohman mengatakan, keunikan Meubel Inlay menjadi ciri khas gaya meubel Madura khas kota Bangkalan. Nama inlay berasal dari ucapan seorang turis manca negara, ketika melihat pertama kali seni ukir ini. Karena kagum sekaligus tidak percaya, turis tersebut bilang, its a lie.

Nurrohman yang tidak mengerti bahasa Inggris, hanya tersenyum. Dan sejak itu pula, lontaran kalimat its a lie tersebut, berubah menjadi inlay, serta menjadi nama seni ukir baru ini.

Awal usahanya pada tahun1994. saat itu ia mencoba mengumpulkan kayu jati bekas dari salah satu rumah kerabatnya, untuk dibentuk menjadi sebuah lemari. Bermodal keahlian melukis dan mengukir, Nurrohman mulai memberi sentuhan berupa gambar motif ukir.

Namun, usahanya tidak berjalan lancar. Pasalnya, bahan yang digunakan untuk menggambar pada lemari buatannya, luntur. Ia memutuskan membuat ukiran menggunakan alat menyerupai pisau kecil yang disebut pahat kayu. Pahat inilah yang dijadikan ‘pena’ untuk mengukir dengan kedalaman mencapai dua milimeter.

Menurut Nurrohman, seni ukir Meubel Inlay, haruslah dari kayu jati tua, meski itu bekas sekalipun. Hal ini dikarenakan, kayu jati tua sudah sangat kering dan tentu saja semakin kuat. “Di sinilah kelebihan dari meubel inlay yang selalu terjaga dan menjadi ciri khasnya”, ujarnya.

Selain dipasarkan secara lokal, hasil kerajinan meubel seni ukir inlay, juga mulai merambah ke Bali. Dari pulau Dewata itulah, meubel seni ukir inlay dipasarkan hingga ke Eropa maupun ke Amerika.

Nurrohman mengakui, hasil kerajinan Meubel Inlay, memang rata-rata diserap oleh kalangan menengah ke atas, karena nilai jualnya yang cukup tinggi, yakni antara Dua Juta hingga Puluhan Juta Rupiah. Untuk satu set produk terdiri dari kursi dan meja tamu, ditawarkan seharga Lima Juta Rupiah.

Sumber : www.berita86.com