Jeli Memetik Bisnis Sandal dari Limbah Kelapa

Kejelian menangkap bisnis kerap kali membuat orang sukses menjadi wirausahawan. Hal ini lah yang dialami oleh Unardi perajin sandal dari limbah tempurung kelapa asal Purbalingga, Jawa Tengah.

Unardi mengungkapkan, ide membuat sandal tempurung kelapa muncul begitu saja. Inspirasinya berawal saat melihat potongan sisa tempurung yang telah dibuat berbagai macam kerajinan. Daripada potongan tempurung kecil-kecil tidak dipakai, ia lantas dimanfaatkan dengan cara dirangkai secara vertikal dan direkatkan dengan rem.

”Kebanyakan pesanan sandal tempurung untuk souvenir. Selain itu juga sejumlah pedagang dari luar kota seperti dari Bali, Jakarta dan Bandung, memesan sandal tempurung dari kami,” kata Unardi, Jumat (08/04/2011).

Selama ini alas kaki sandal kebanyakan dibuat dari karet atau bahan plastik. Produk milik Unardi ini justru memiliki ciri khas tersendiri, sehingga tak heran sandal Made in Purbalingga ini laris manis di banyak kota di Tanah Air.

Sandal ini ternyata diminati konsumen dari luar kota seperti Jakarta, Bandung dan Bali. Sementara di penjualan lokal, tidak begitu banyak dikenal. Bisa jadi, sandal tempurung buatan Purbalingga ini justru tidak banyak diketahui jika orang berasal dari Purbalingga.

Unardi menuturkan meski berbahan dasar sebagian besar dari tempurung kelapa, namun bagian alas sandal tetap menggunakan bahan karet atau plastik, sesuai selera konsumen. Sementara bagian pengikat kaki, juga sama dengan sandal lainnya. Tempurung hanya digunakan pada pelapis alas sandal.

Harga sepasang sandal ini juga tidak begitu mahal, cukup merogoh Rp 25.000, anda sudah bisa membawa pulang sepasang sandal unik ini. Harga itu berlaku untuk jenis sandal ukuran apa saja.

”Kami juga terus didorong oleh Disperindagkop Kabupaten Purbalingga untuk terus membuat produk-produk yang unik dan belum ada di masyarakat. Seperti sandal tempurung, juga meja tempurung, tempat tisue, kap lampu, asbak, tempat minuman dan sejumlah produk lainnya,” katanya.

Ketua kelompok pengrajin tempurung ‘Manunggal Karya’ Sutrisno mengatakan kini ia memiliki 42 orang anggota. Setidaknya ada 34 macam hasil kerajinan yang diproduksi dan dijual ke pasaran di sejumlah kota besar.

Hasil kerajinan ini sebagian besar untuk keperluan rumah tangga seperti irus, centong, sendok kayu kelapa, piring kayu, ciri dan penghalus sambal, jam tempurung dan sebagainya. Bahan dasar yang digunakan selain limbah tempurung, juga potongan kayu kelapa (glugu), dan potongan kayu melinjo.

”Kami secara terus menerus mendapat dukungan promosi dari Pemerintah Kababupaten Purbalingga melalui Disperindagkop Kabupaten Purbalingga, dan juga melalui Bank Jateng,” kata Sutrisno.

Unardi

Alamat:

Kelurahan Purbalingga Wetan, Kecamatan Purbalingga, Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah.

Sumber : Finance Detik & Pelayanan Masyarakat
Iklan

Sulap Batok Kelapa Menjadi Becak

Bandung – Kreasi kerajinan tangan asal Jawa Barat beragam jenis dan bentuk. Tangan-tangan kreatif di bumi Pasundan ini mampu mengubah benda tak berharga menjadi bernilai rupiah.

Seperti digeluti Ook (36) sekitar setahun ini. Ia menyulap limbah atau sampah sisa batok kelapa jadi barang-barang unik. Karyanya itu mayoritas berfungsi sebagai hiasan atau cinderamata yang sarat sentuhan seni.

“Limbah dari batok kelapa bisa dijadikan benda-benda yang unik dan menarik. Daripada dibuang begitu saja, sisa-sisa bato kelapa ini saya manfaatkan menjadi untuk kerajinan tangan,” kata Ook saat ditemui di stan Kabupaten Bandung Barat dalam kegiatan Kemilau Nusantara 2010 di Monumen Perjuangan Jawa Barat, Jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Minggu (24/10/2010).

Ia mengaku mampu membuat ratusan bentuk dan desain dari batok kelapa. Mulai dari miniatur rumah, sepeda motor, keranjang hingga lukisan.

“Contohnya miniatur motor Vespa dan Becak. Sampah batok kelapa dikumpulkan lalu ada yang dipotong dan diukir. Setelah itu, beberapa batok-batok kelapa ada yang ditempel untuk membentuk benda yang diinginkan tadi,” jelas Ook sambil memamerkan karyanya.

Ia menambahkan, harga dari hasil olah tangannya itu tergantung tingkat kesulitan benda yang dibuat sendiri atau berdasar pesanan konsumen. Untuk vespa dan becak, Ook mampu merampungkan selama dua hingga tiga hari.

“Semua itu kembali lagi kepada tingkat kesulitan saat proses pembuatan. Benda-benda buatan saya dan sejumlah teman ini, terlihat cocok dipajang di dalam rumah, ruang hotel dan kafe,” ucap pria berkacamata ini.

Miniatur becak, Ook membanderol di harga Rp 75 ribu. Sementara miniatur becak yang dilengkapi pengemudinya itu dilego Rp 120 ribu untuk ukuran kecil.

Setiap harinya, Ook menyempatkan diri bersama sejumlah teman untuk memproduksi sampah menjadi barang pendatang rupiah. Ia mengerjakannya di sebuah tempat di Jalan Kolonel Masturi atau dekat RSJ Cisarua. “Kalau mau cari saya, datang saja ke SMP Cisarua,” tutupnya.

Sumber : http://hileud.com