Limbah Ikan yang Membawa Berkah

KOMPAS.com – Novie Indah Husniah tak pernah menyangka kesehariannya berdekatan dengan limbah sisik ikan, yang mengotori pinggiran laut dan kawasan perlelangan ikan di Sidoarjo, Jawa Timur, menjadi awal keberhasilannya meraih penghargaan entrepreneur terbaik.

Perempuan muda (26) ini adalah satu di antara 18 finalis Citi Micro-Entrepreneurship Award (CMA) 2010. Atas dukungan Thowilah, pembinanya dari koperasi Al Mubarokah, Tanggulangin, Sidoarjo, Novie berhasil mengembangkan usaha kerajinan bros sisik ikan sejak 2008. Tak hanya itu, motivasi dan pengetahuan yang didapatnya sejak bergabung di koperasi pada 2009 lalu juga menguatkan semangat wirausahanya, hingga akhirnya terpilih menjadi finalis CMA 2010 mewakili Sidoarjo.

“Dari enam jenis usaha yang saya ajukan, hanya produk bros sisik ikan ini yang disurvei pihak penyelenggara dan berhasil terpilih sebagai finalis,” kata Thowilah kepada Kompas Female, usai penganugerahaan CMA 2010 di Hotel Millenium Jakarta, beberapa waktu lalu.

Keunikan produk, inovasi bisnis menyegarkan dari limbah ikan segar, motivasi membangun usaha, dan membuka lapangan pekerjaan membawa Novie ke ajang penghargaan yang memasuki tahun keenam ini. Novie tak pernah menduga, ia pun berhasil meraih gelar juara pertama untuk kategori kerajinan CMA 2010. Atas prestasinya ini, Novie berhak membawa pulang hadiah senilai Rp 11 juta.

“Rasanya masih tak percaya berhasil menerima penghargaan dan hadiah ini. Tetapi menang bagi saya bukan untuk berdiam diri, namun justru mendapatkan tanggung jawab. Hadiah ini juga bukan untuk menyenangkan diri sendiri tetapi untuk mengembangkan usaha yang sudah ada,” tutur Novie yang merasa “diberi” hadiah istimewa menjelang ulang tahunnya yang ke-26, tepat pada 11 November, sehari setelah menerima penghargaan CMA 2010.

Bermodalkan kreativitas dan dukungan moral
Limbah sisik ikan berkelimpahan dan berserakan di kawasan perlelangan ikan, Desa Pepe, Sedati, Sidoarjo. Artinya, bahan baku kerajinan bros yang dibuat Novie tak akan habis dan sangat berpotensi diperbarui. Apalagi, kata Novie, sisik ikan yang berpotensi dijadikan bros berasal dari ikan kakap yang selalu dibawa pulang nelayan dari laut setiap hari.

“Ikan kakap laut tak bergantung pada musim, jadi setiap hari nelayan pasti menangkap ikan kakap,” papar Novie.

Bahan baku yang melimpah menjadi berkah jika dilihat dengan cara kreatif seperti yang dilakukan Novie. Awalnya, kisah Novie, ia menginjak hamparan limbah sisik ikan yang mengotori pinggir pantai. Sisik ikan berukuran 3 cm ini berwarna putih, berlendir dan berbau amnis. Sekilas mirip kelopak bunga, dalam pandangan Novie. Dari situlah ia membawa pulang satu karung sisik ikan dan diubahnya menjadi benda cantik bernilai ekonomi yang dikenakan perempuan sebagai penghias pakaian.

“Awalnya sempat meragu apakah ide saya bisa berjalan atau tidak ke depannya. Apalagi produksi satu hari hanya menghasilkan satu bros pada tahap awalnya. Lebih tidak percaya diri lagi karena barang ini baru dan belum ada di pasaran. Khawatir nantinya susah mencari pasar. Namun, saya tetap mencoba meski seringkali gagal membuat bros yang saya inginkan,” tutur Novie.

Meski sempat merasa tak percaya diri, Novie tak menyerah dan terus mencari solusi. Berkonsultasi dan memperkaya diri dengan berbagai ilmu kerajinan melalui buku maupun internet adalah cara yang dipilihnya. Sarjana Pendidikan dari Fakultas Teknik Jurusan Pendidikan Tata Busana Universitas Negeri Surabaya ini juga berdiskusi dengan dosen mengenai  niatnya membangun usaha bros dari sisik ikan kakap.

“Menjadi pengusaha pemula membutuhkan motivasi dari orang lain. Dukungan dan dorongan dari dosen saya membuat saya lebih bersemangat dan percaya diri mengenalkan produk bros sisik ikan ini,” aku Novie.

Dalam satu tahun, bisnis kerajinan bros sisik ikan milik Novie mengalami kemajuan baik dari produksi maupun manajemen bisnis dan pengrajin. Usaha Novie yang menggunakan merek Vay Craft berhasil memproduksi sekitar 40 bros setiap bulan dengan modal awal Rp 1,3 juta. Novie mempekerjakan lima karyawan tetap yang menyelesaikan produksi di rumah masing-masing.

“Karyawan lebih efektif jika bekerja di rumah daripada dikumpulkan di satu tempat. Hasil produksi mereka lebih banyak jika bekerja dari rumah,” kata Novie.

Satu tahun kemudian, setelah bergabung di koperasi Al Mubarokah, Novie mampu meningkatkan produksi dua kali lipat (80 bros per bulan) dengan bantuan tambahan modal Rp 1 juta.

Kekhawatiran Novie saat awal hendak memulai usaha, terkait pasar, juga terbantahkan. Vay Craft mendapatkan langganan yang kebanyakan adalah perias pengantin. Produk bros sisik ikan Novie juga berkembang menjadi hiasan rambut untuk sanggul pengantin. Pelanggan lain yang berhasil digaet Novie adalah toko suvenir dan kerajinan di Sidoarjo dan Surabaya.

Dengan mematok harga jual Rp 25.000 – Rp 35.000, Novie berhasil meraup omzet senilai Rp 5 juta. Keuntungan bersih yang dinikmatinya sekitar Rp 1,5 juta.

Ekspansi pasar bermodalkan hadiah
Kini, setelah berprestasi mendapatkan penghargaan dan uang sebagai hadiah kerja kerasnya, Novie semakin bersemangat mengembangkan bisnisnya.

Memperluas pasar ke kota yang menjadi destinasi wisata, seperti Yogyakarta dan Bali, adalah target utama Sovie. Caranya, bisa dengan membangun keagenan atau menitip di toko suvenir.

“Masih dipikirkan cara dan peluang pasarnya,” akunya.

Selanjutnya, pengembangan desain dan variasi produk adalah ide lain yang ingin segera diwujudkan Novie sepulang menerima penghargaan CMA 2010.

“Mungkin juga merekrut pekerja lagi, menjadi total 10 orang. Dengan begitu, saya bisa meningkatkan produksi dua kali lipat sekitar 160 bros per bulan. Kalau sudah baik produksinya, saya berani memenuhi permintaan dalam jumlah banyak,” Novie menjelaskan berbagai rencananya penuh semangat.

Sumber : Kompas dan Galeri Ukm

Berkat Limbah Kayu Raup Puluhan Juta

Bagi sebagian orang, kayu sisa bangunan hanya dianggap sampah tidak bermanfaat. Namun, tidak demikian bagi Yoga Suratmoko. Di tangannya, kayu bekas bangunan yang sudah tidak terpakai dapat berubah menjadi suatu hasil karya yang unik dan menarik serta memiliki nilai jual tinggi.

Berbekal dengan menggunakan sebuah alat yang bernama pisau penyot dan kayu putih sebagai bahan utama, Yoga Suratmoko dibantu temannya, yakni Yuni Tri Purwanto, berhasil menciptakan sebuah kerajinan tangan yang menarik dan membuat decak kagum bagi masyarakat yang melihatnya.

Awal mula Yoga menekuni kerajinan dari bahan baku kayu putih adalah pada saat dirinya bekerja di pabrik kayu lapis. Setiap hari ia melihat kayu lapis hasil olahan dibuang begitu saja. Dari situ, Yoga mulai berpikiran bagaimana caranya supaya kayu bekas tersebut tidak terbuang sia-sia.  “Waktu bekerja di pabrik kayu itu, saya iseng membuat sesuatu dari kayu sisa. Setiap hari saat istirahat kerja, saya gunakan untuk membuat gantungan kunci. Tidak disangka teman saya tertarik dengan hasil itu,” ceritanya.

Selang tidak lama, pabrik tempat ia bekerja mengalami kebangkrutan. Terpaksa suami dari Kuntiati ini harus memutar otak untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Berbekal darah seni yang telah mengalir dalam dirinya, ia berinisiatif mengembangkan hasil karyanya yang terbuat dari kayu sisa bekas bangunan tersebut.

Setelah berhasil membuat olahan kayu menjadi gantungan kunci, ia terus berupaya lebih mengasah kemampuannya untuk menciptakan sesuatu yang lebih unik. Dirinya dibantu dengan beberapa teman yang tergabung dalam KUB Ampel Handycraft yang beralamat di Jalan Sunan Ampel 5 RT 03 RW 2, Kota Magelang, ini mencoba menciptakan kerajinan tangan yang berbentuk serangga. Ide tersebut ia peroleh dari lingkungan sekitar.

Pria asli Magelang ini akhirnya berhasil membuat miniature serangga dari kayu putih sisa bangunan yang sudah tidak terpakai. Waktu itu, kerajinan yang benar-benar hanya menggunakan tangan tersebut tidak langsung dijual di pasaran. “Jika ada teman yang tertarik membeli, ya kami langsung berikan,” katanya yang diamini oleh temannya.

Mendapatkan sambutan positif, memicu pria kelahiran 22 April 1969 itu untuk terus mengasah keahlian yang dimiliki. Lambat laun, naluri seninya mampu terasah dengan baik. Terbuki dengan banyaknya hasil karya yang telah ia ciptakan. “Jika dihitung-hitung, ya sudah ada 200 lebih kerajinan yang sudah saya ciptakan selama lima tahun,” katanya yang berharap suatu saat ingin membuka galeri sendiri itu.

Seiring dengan perkembangannya, Yoga dibantu dengan 10 temannya, yang juga merupakan warga Ganten, mulai mendapatkan pesanan setiap hari. “Jika saya lakukan sendiri pastinya tidak sanggup, makanya saya ajak Mas Yuni cs untuk membantu,” ujarnya.

Saat ini ia bersama temannya mampu membuat kerajinan berupa burung elang, berbagai macam serangga, dan sosok cerita anak, salah satunya Hulk.

Hingga saat ini ia telah menerima pesanan dari berbagai kalangan. Omzet yang dihasilkan tiap bulan pun dapat berkisar hingga puluhan juta rupiah. Pasalnya, dalam membuat satu macam hasil karya berupa burung elang, dihargai sekitar Rp 3,5 juta. Sementara itu, untuk penyelesaiannya diperkirakan memakan waktu dua minggu. Untuk kerajinan berwujud naga sekitar Rp 4 juta.

Harga tersebut tergantung dari tingkat kesulitan saat membuat dan ukuran juga sangat memengaruhi nilai jualnya. “Ya alhamdulilah hasil penjualan dapat digunakan untuk beli rokok dan makan sehari-hari,” candanya yang tidak mau menyebutkan secara pasti berapa pasti omzet yang didapat setiap bulan.

Sumber: kompas.com

Menyulap Kayu Bekas Menjadi Produk Berkelas


Profil Pengrajin Prototipe Harley Davidson Besar Pertama di Dunia

Meskipun pada awalnya ditentang keras oleh anak-anaknya, pak Widodo tetap bersikeras untuk membuat prototipe motor harley davidson dengan ukuran sesuai aslinya. Anaknya, mas Eko dan mas Jono yang sehari-hari membantu ayahnya membuat handicraft prototipe harley ukuran kecil berbagai model, berfikir terlalu sayang membuang-buang bahan kayu karena belum tentu laku di pasar. Sementara dengan hasil produk yang sedang berjalan, membuat berbagai kerajinan ukuran kecil, mereka sudah mulai menikmati hasil yang lumayan.

Dengan bantuan setengah hati dari anak-anaknya dan dibantu juga oleh dua karyawannya, pak Widodo akhirnya dapat menyelesaikan enam buah harley dari potongan kayu sisa. Tantangan berat berikutnya adalah memasarkannya, karena harga per produknya yang terhitung mahal. Momentum perayaan pernikahan anaknya menjadi ajang promosi moge (motor gede) berwarna kayu yang mengkilap itu. Dengan posisi rumahnya yang strategis di pinggir jalan, keenam moge itupun ikut nongkrong di depan rumah menjadi salah satu dekorasi yang tidak lazim pada pesta pernikahan pada umumnya.

Hasil dari pameran amatir dadakan itupun membuahkan hasil yang menggembirakan. Para tamu undangan dan pengguna jalan di depan rumahnya pun mulai berdecak kagum. Satu tamu istimewa yang tidak diundangpun akhirnya datang juga. Seorang buyer dari Perancis yang sedang lewat menyempatkan turun dari kendaraannya untuk singgah setelah melihat sederetan moge coklat itu. Tentu saja bukan untuk ikut resepsi. “Bule bercelana pendek dan berkaos oblong itu tiba-tiba ikut masuk dan bersalaman dengan Bapak serta menyatakan minatnya untuk membeli harley. Akhirnya dia menjadi buyer pertama untuk harley besar kami”, kenang mas Hari.

Pada awal pembuatannya, tahun 2004, sebuah harley besar itu bisa dijual seharga Rp 20 jutaan. Tapi seiring dengan makin banyaknya produk yang diedarkan, per unitnya saat ini hanya bisa dijual seharga Rp 11 jutaan. Meskipun harganya turun, pak Widodo masih dapat mengantongi keuntungan yang cukup mengingat bahan baku yang dugunakan adalah kayu sisa mebel yang murah. Pengerjaanya juga tergolong cepat, yaitu per unit dapat diselesaikan rata-rata dua minggu oleh dua orang tukang.

Tak puas dengan prototipe harley besar yang masih kasar, mulailah keluarga ini membuat harley yang lebih sempurna yang sama persis dari setiap ukuran detilnya dan asesoris yang ada. Untuk menyempurnakan hasil karyanya, tidak segan-segan mereka merogoh kocek yang tidak sedikit untuk melakukan riset. “Jika ada model yang akan dibikin detil, kami menyewa harley ke orang solo atau boyolali untuk kami bawa pulang”, ujar mas Eko. Untuk bisa menjiplak model sampai selesai, biasanya mereka membutuhkan waktu tujuh hingga sepuluh hari, dengan biaya sewa antara Rp 100 ribu hingga Rp 150 ribu per hari.

Pekerjaan meniru ini tidaklah semudah menjiplak tulisan. Selain membutuhkan waktu lama, ketelitian ekstra juga biaya yang lumayan besar. Apalagi jika contoh yang ingin ditiru tidak mudah ditemukan. Pernah suatu saat ada pesanan dari buyer dari Inggris untuk membuat harley kuno yang saat itu sudah jarang dipakai orang. Setelah meyusuri berbagai showroom dan kolektor moge, akhirnya ditemukanlah barang yang dimaksud di sebuah museum barang kuno di Yogyakarta. Tentu saja harley tersebut tidak bisa diangkut ke Boyolali. Terpaksalah mas Eko menginap beberapa hari di Yogya untuk membuat sketsa motor tersebut, plus harus mengeluarkan Rp 750 ribu untuk membayar fee.

Semangat berinovasi pak Widodo dan keluarga kembali dibuktikan dengan memunculkan produk baru. Kali ini adalah prototipe mobil rollroyce kuno sesuai ukuran aslinya. Produk pertamanya telah selesai dibuat dan dikirimkan ke Inggris pada tanggal 23 Juli 2009, bersamaan dengan kunjungan tim reportase portal PIUMKM ke sana. Harganya juga tak tangung-tanggung, Rp 50 juta per unit. “Yang tidak kami duga sebelumnya adalah beratnya. Mobil tersebut baru bisa diangkat dengan susah-payah oleh 12 orang”, tegas mas Hari. Sementara untuk berat rata-rata harley hanya 150 kg, yang cukup diangkat oleh empat orang.

Pasar untuk moge-nya saat ini sudah sampai ke Afrika Selatan, Inggris, Perancis, dan Amerika Latin. Menjaga kepercayaan buyer dan mitra bisnis adalah salah satu kunci yang dipegang teguh oleh pria berusia 60 tahun beserta anak-anaknya ini. Selain loyalitas dari para buyer, perbankan juga telah memberi kepercayaan penuh untuk mengucurkan kredit. Tantangannya saat ini adalah menata manajemen agar usaha ini menjadi institusi bisnis yang kuat, serta menjaga hak intelektualnya. “Kami sangat mengharapkan bantuan PIUMKM untuk bisa mendapatkan HAKI bagi produk kami”, ujar mas Eko lagi dengan semangat.

Dengan berbekal keterampilan, ketekunan dan semangat berinovasi, pak Widodo dan keluarga yang telah menjalani usaha kerajinannya sejak tahun 1998 ini telah bisa memberi pekerjaan untuk 13 orang karyawannya. Dengan kapasitas produksi 12 unit prototipe moge perbulan, mereka telah dapat memberikan nilai tambah yang signifikan. Mereka telah dapat menyulap seonggok kayu bekas yang tidak bermanfaat bahkan berpotensi mengotori lingkungan menjadi sebuah produk bernilai tinggi yang dapat mengangkat ekonomi lokal. Bahkan sampai saat ini usaha ini diperkirakan masih menjadi satu-satunya di dunia produsen prototipe harley davidson dengan ukuran asli.

Sumber : ppkwu

Boneka dari Limbah Pisang Tembus Jepang dan Eropa

Di tangan Supartini atau lebih dikenal dengan nama Tien Soebandiri, limbah pelepah pisang bisa disulap menjadi produk kerajinan bernilai jual tinggi. ”Pada dasarnya saya suka berkreasi dengan kerajinan  dari bahan apa pun. Kalau kelobot atau kulit jagung dan daun kering rasanya sudah sering, saya iseng coba pelepah pisang waktu itu,” kata wanita dengan empat cucu ini.

Idenya sederhana, menjadikan pelepah pisang sebagai produk kerajinan khas lokal yang bisa ditenteng sebagai oleh-oleh bagi wisatawan. ”Suami saya kalau ke luar negeri sering beli kerajinan khas negara tersebut. Kebanyakan berupa boneka. Saya terinspirasi dari situ, menjadikan pelepah pisang sebagai boneka yang mudah ditenteng wisatawan,” kata wanita berusia 66 tahun ini.

Awalnya, ia hanya bermodal satu gedebok pisang yang sudah dikeringkan untuk diuji coba. Bahannya, kawat sebagai kerangka, lem dan benang untuk rambut. Untuk boneka besar yang lebih dari 20 cm, kerangkanya dari botol. Baju boneka bisa di-mix pelepah pisang kering, kelobot, kepompong, dan daun kering. Untuk rambutnya, bisa terbuat dari serabut jambe atau potongan tali karung.

”Saya bikin 2–4 boneka sebagai contoh. Setelah direspons, barulah bikin dalam jumlah banyak. Order terbanyak ekspor ke Jepang dan Eropa, tapi tidak ekspor langsung melainkan lewat buyer dari Jakarta yang mengirimkan ke sana,” ujar Tien saat ditemui di rumahnya di Jalan Ciliwung, Surabaya.

Untuk boneka yang kecil-kecil setinggi 20 cm, harganya berkisar Rp 50.000–Rp70.000, sedangkan yang berukuran besar antara Rp 100.000–Rp 150.000. Harga bisa menyesuaikan sesuai order dan tingkat kerumitan pembuatan baju. ”Saya tidak ready stock, hanya by order. Stok yang ada ini hanya untuk contoh. Tiap bulan tak selalu ada order karena kerajinan saya tak hanya boneka, tapi ada bunga kering dan kerajinan lainnya. Kalau order boneka sepi, omzet di-cover dari kerajinan yang lain,” lanjut mantan Ketua Asosiasi Pengrajin Bunga Kering dan Bunga Buatan (Aspringta) Surabaya ini.

Menurut Tien, order paling ramai jika ada pameran dan musim pernikahan karena banyak pesanan boneka limbah ini untuk dijadikan sebagai suvenir. Untuk kebutuhan gedebok pisang, ia pesan langsung dari Yogyakarta, Mojokerto, dan Sidoarjo.

”Kalau pas musim kemarau, saya beli gedebok banyak untuk stok saat musim hujan karena susah dapat gedebok bagus, rata-rata gampang busuk dan rusak,” ujar wanita kelahiran Yogyakarta, 14 Maret ini.

Sekali mengirim gedebok kering sampai 10 kg dengan harga Rp 175.000–Rp 200.000. Ia sengaja tidak memesan gedebok basah karena proses pengeringannya harus secara manual dan itu memakan waktu lama. ”Tak semua gedebok kering itu bisa dipakai, saya pilih serat yang bagus, yang cacat dibuang. Jadi 10 kg gedebok kering bisa menghasilkan 50 boneka kalau ukurannya besar, tapi untuk boneka ukuran kecil bisa 100 boneka. Itu jatah sebulan,” kata Tien yang melibatkan puluhan ibu-ibu perajin untuk pembuatannya.

Proses pembuatan boneka pelepah pisang tidak terlalu rumit. Gedebok kering direndam 60 menit dengan cairan H2O2 (hidrogen peroksida). Harga cairan ini Rp 350.000 per galon. Jangan terlalu lama direndam karena bisa getas. Angkat, lalu cuci bersih, diangin-angin sebentar, jangan dijemur di bawah terik matahari. Masuk proses pewarnaan dengan sitrun selama 20 menit. Angkat, lalu keringkan secara manual. Setelah itu baru disetrika, lalu digunting sesuai kebutuhan.
”Dari unsur kepompong kering dan daun kering, seperti daun sirsak, saya buat untuk aksesori boneka berupa bros cantik. Proses pengeringannya hampir sama, cuma harus lebih telaten karena gampang rusak,” kata wanita yang tiap bulannya bisa meraup omzet Rp 5 juta dari usaha ini. (kompas)

Sumber : http://bisniskeuangan.kompas.com
Gambar : http://www.idekerja.com

Serba Mini dari Betawi

Menyalurkan hobi, melestarikan budaya, sekaligus berbisnis. Begitulah yang dilakoni Burhan dan tiga kawannya yang tergabung dalam rumah produksi Artbizz. Sebagai “anak sekolahan” yang lahir dan besar di kawasan Lebak Bulus, dia cukup paham seluk-beluk budaya asli masyarakat Betawi. Burhan dan kawan-kawan ingin khalayak luas, termasuk wisatawan asing yang berkunjung ke Jakarta, mendapatkan oleh-oleh nan simpel tapi penuh makna. Dari hasil kongko pada pertengahan tahun lalu, tercetuslah ide membuat rumah adat betawi dalam bentuk mini.

Sebagai anak betawi, ia prihatin karena sulit menemukan rumah warga Betawi yang betul-betul berkonsep tradisional di kampung Betawi. “Banyak orang yang tak paham kalau tiap bagian rumah adat betawi ini memiliki makna,” kata insinyur teknik informatika jebolan Universitas Pembangunan Nasional Veteran itu saat ditemui Tempo di Mal UKM, Tanah Abang, Sabtu pekan lalu. Dia mencontohkan, paseban atau ruang tamu selalu terletak di depan rumah. Ini bermakna sifat orang Betawi yang terbuka dan siap menerima tamu kapan saja. Sedangkan gigi balang, rumbai yang berada di bawah atap, bermakna pertahanan yang kuat.

Kerajinan berupa rumah adat mini bukanlah yang pertama. Rumah adat Bali dan Yogyakarta telah lebih dulu dibuat orang. Tapi Burhan mengklaim, rumah adat Betawi yang dibuatnya amat menonjolkan detail. Saat ini, Artbizz baru menggarap dua dari empat jenis rumah Betawi, yakni rumah panggung (tingkat si Pitung) dan gudang. Sisanya, joglo dan kebaya tengah digarap untuk mengikuti ajang pamer tingkat nasional.

Untuk mendapatkan desain tempo dulu, mereka harus membuka-buka aneka buku kuno dan berselancar di dunia maya. “Sekitar 75 persen bahan yang kami gunakan merupakan hasil daur limbah,” kata Tomo, pria keturunan Jawa kelahiran Bali yang didaulat sebagai kepala produksi. Untuk atap, misalnya, dipilih janur kering. Tusuk gigi digunakan untuk membentuk jendela kayu. Pintu dan kolom rumah terbuat dari bambu kuning. Melengkapi detail, Tomo menambahkan sepiring pisang goreng dan secangkir kopi yang terbuat dari clay (keramik berbahan parafin). Semua bahan didapat dari lingkungan sekitar. Sejauh ini, mereka belum menemukan kesulitan berarti. Satu-satunya kesulitan adalah ketelitian dan kesabaran, terutama pada pembuatan detail, seperti bilik dan gigi balang.

Untuk modal, sejauh ini mereka belum melirik bantuan perbankan. Dari hasil saweran keempat sekawan itu: Burhan, Tomo, Iwan, dan Usman, terkumpul Rp 10 juta sebagai modal awal. Untuk urusan pengembangan produk dan pemasaran, Burhan dan Tomo menunjuk Iwan dan Usman. Selain rajin mengikuti pameran, Artbizz sudah menggandeng agen di lingkungan Taman Mini untuk mempromosikan dan menjual produknya. Mereka juga tengah berupaya memasukkan produk ke daerah wisata lain dan bandara di seluruh Tanah Air. Saat ini, sekitar 70 persen konsumennya tergolong orang kaya, sisanya korporat. “Mereka minta dibuatkan miniatur yang berisi produk-produk perusahaan,” kata Burhan.

Kini, pemerintah daerah dan SME’sCo (Small Medium Enterprises Cooperative) telah menunjukkan perhatian terhadap mereka. Bulan depan, kata dia, Konsulat Jenderal RI di Hong Kong akan membawa produk miniatur mereka untuk mengikuti pameran usaha kecil dan menengah di sana. Produk yang dibuat pun meluas ke barang lain yang masih berbau betawi, seperti gerobak kerak telor, kandang kambing, pensil berbentuk ondel-ondel, hingga rumah etnik Cina lengkap dengan gasibu dan naga di atapnya. Desain lain yang tengah dirancang adalah masjid dan jembatan Muara Angke. Sejauh ini, semua produk dibuat dengan bantuan empat orang pekerja dari lingkungan sekitar.

Satu di antaranya bertitel insinyur sipil. Dalam pameran di Pekan Raya Jakarta pada Agustus lalu, seorang investor asal Belanda menyatakan minatnya terhadap produk Artbizz. “Dia minta dibuatkan mainan kincir angin tradisional Indonesia,” kata Tomo. Setelah Lebaran, Oktober nanti semua pesanan dan tawaran kerja sama akan ditindaklanjuti. Meski berukuran mini, karena proses pembuatannya butuh ketelitian ekstra, harga jual produk Artbizz tergolong mahal. Rumah adat Betawi berukuran 30 x 40 sentimeter, misalnya, dihargai Rp 2,5 juta. Miniatur gerobak kerak telor dibanderol Rp 500-700 ribu, dan Rp 10 ribu untuk untuk pensil ondel-ondel. Rieka Rahadian

Sumber : www.tempointeraktif.com

Kerajinan Pelepah Pisang dan Enceng Gondok

Pelepah pisang ternyata memiliki keunikan dan kelebihan tersendiri setelah diproses menjadi berbagai macam kerajinan. Baik melalu model penempelan (laminating), anyaman maupun untuk kominasi dengan produk kerajinan lainnya.


Tekstur dan warna dari pelepah pisang ternyata sangat unik dan alami, dan akan membuat kerajinan yang dikombinasi dengan pelepah pisang menjadi lebih menarik dan memiliki nilai jual yang tinggi.

Aneka macam produk kerajinan yang memanfaatkan kerajinan pelepah pisang lebih banyak yang diekspor dari pada yang dibutuhkan untuk pasar dalam negeri.

Hal ini dapat dilihat di sentra kerajinan rotan, di desa Trangsan, Kecamatan Baki, Kab. Sukoharjo dekat dengan Kota Solo. Di mana rata-rata produk yang dibuat diorientasikan untuk pasar ekspor.

Pelepah pisang dalam produknya dikombinasikan dengan rotan dan enceng gondok. Menghasilkan produk yang benar-benar unik dan menarik. Kelebihan lainnya adalah bebannya yang sangat ringan, sehingga furniture dari pelepah pisang ini mudah dipindah-pindahkan dan cocok untuk orang-orang yang menyukai suasana rumah yang selalu baru dan berubah.

Begitu juga dengan enceng gondok yang semula adalah limbah, atau tanaman yang dianggap mengganggu karena tumbuh liar di Rawa Pening Semarang dan melalui proses yang sama dengan pelepah pisang mampu dimanfaatkan menjadi aneka kerajinan. Produk yang dihasilkan hampir sama dengan pelepah pisang namun memiliki ciri khas warna dan motif yang berbeda.

Contoh foto produk kerajinan pelepah pisang dan enceng gondok:

Sumber : MMFaozi