Pentagon Pesan Miniatur Kayu Dari Sleman

dfgHiro Prabantoro (39), pengusaha kerajinan mainan miniatur dan replika berbahan limbah kayu, dengan salah satu hasil kreasinya, yakni replika mesin Ferrari GTB 365 skala satu banding satu, pesanan seorang kolektor asal Australia, di Sleman, DI Yogyakarta.

Di tengah sulitnya mencari lapangan pekerjaan saat ini, tak sedikit penganggur yang bingung, stres, dan akhirnya putus asa. Padahal, begitu banyak hal di sekeliling kita yang bisa diusahakan menjadi sumber penghasilan. Untuk itu, yang diperlukan hanya sedikit kreativitas.

Hiro Prabantoro (39), warga Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, bisa menjadi salah satu sumber inspirasi.

Selama sembilan tahun terakhir, Hiro menekuni usaha mainan miniatur dari kayu. Produk yang dibuat Hiro bukan dari bahan baku kayu-kayu mahal, melainkan dari limbah kayu sisa industri furnitur dan kusen.

”Bagi kebanyakan orang, kayu-kayu sisa itu dianggap sudah tidak berguna dan paling hanya berakhir di tempat sampah. Tapi, buat saya itu barang sangat berharga,” kata Hiro ketika ditemui di rumah sekaligus bengkel kerjanya di Jalan Tentara Pelajar, Ngaglik, Sleman, DI Yogyakarta, beberapa waktu lalu.

Berbagai limbah kayu, mulai dari limbah kayu jati, mahoni, hingga nangka yang diperolehnya dari pengusaha furnitur setempat disulapnya menjadi berbagai mainan miniatur. Sebut saja, miniatur replika kendaraan tempur, pesawat, senjata, motor, mobil, dan pajangan hewan.

Dengan limbah kayu seharga Rp 300.000 per mobil, Hiro bisa menghasilkan 200-300 mainan miniatur. Pemasaran produk Hiro pun telah merambah lima benua. Produksi mainan miniatur itu telah dipasarkan di 22 negara.

Harga yang dipatok oleh Hiro untuk mainan hasil karyanya mulai dari 10 dollar AS hingga 2.500 dollar AS per mainan. ”Omzetnya tidak banyak, hanya mencapai Rp 75 juta per bulan. Tapi lumayanlah, hitung-hitung menghasilkan uang dari penyaluran hobi,” kata Hiro, yang juga bekerja sebagai asisten dosen di Magister Sistem Teknik Universitas Gadjah Mada itu.

Diminati Pentagon

Peminat mainan karya Hiro tidak main-main. Selain kolektor dari luar negeri, produk Hiro juga diminati oleh Pentagon, Departemen Pertahanan Amerika Serikat.  Melalui penjual perantaranya di negeri Paman Sam itu, Hiro memasok beberapa jenis miniatur kendaraan tempur sebagai suvenir bagi pejabat-pejabat di sana.

Bahkan, pabrikan mobil ternama, Hummer, juga memesan miniatur karya Hiro untuk dijadikan model-model miniatur penjualan. Saat ini, Hiro tengah menyelesaikan pesanan replika mesin Ferrari GTB 365 dengan skala satu banding satu untuk seorang kolektor di Australia. Untuk pesanan tersebut, satu replika mesin dihargai Rp 15 juta.

Hobi

Hiro mengaku telah menggemari mainan miniatur dan replika sejak kecil. Minatnya terhadap mainan miniatur itulah yang mengantarkan Hiro pada usahanya saat ini.

Hiro membuka usaha membuat miniatur dari kayu ini diberi nama CV Valkiarra pada tahun 2000. Saat membuka usaha itu, ia masih bekerja sebagai konsultan dalam sebuah program pendampingan usaha kecil di salah satu desa di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. ”Saat itu, saya mendampingi desa yang membuat kerajinan mainan kayu yang biasa dijual di kawasan Malioboro,” katanya.

Setelah program pendampingan usaha kecil itu selesai, masyarakat meminta Hiro melanjutkan pengembangan usaha dengan menanamkan modalnya sendiri. Tertarik dengan tawaran itu, sarjana Teknik Sipil Universitas Islam Indonesia (UII) itu pun setuju berinvestasi pada usaha tersebut.

Dengan modal awal Rp 5 juta, ia bersama beberapa tenaga dari warga desa mulai menjalankan usaha itu. Hiro langsung memilih memasarkan produknya ke luar negeri melalui situs internet yang dibuatnya. Dari situ, peminat produknya mulai mengalir. Desain dan tingkat kedetailan miniatur yang dibuat Hiro pun semakin kompleks, mengikuti permintaan klien.

Kecermatan membuat detail itu tak bisa dipenuhi oleh tenaga kerja yang ada di Klaten sehingga pada 2002 Hiro memutuskan memindahkan usahanya ke Yogyakarta. Hiro meyakini, di Yogyakarta banyak tenaga yang terampil dalam bidang kerajinan tangan.

Saat ini ia mempekerjakan 15 pegawai yang memiliki keahlian dalam berbagai bidang, mulai dari desain prototipe, pemotongan, pemahatan, pembubutan, hingga pengecatan. Selain itu, tenaga kerja yang direkrut Hiro juga diharuskan memiliki kualifikasi kesabaran dan ketelitian tinggi. Hal ini dibutuhkan karena produk yang dibuat berukuran kecil dan sarat detail.

Sudah ratusan

Sampai saat ini, Hiro mengaku telah memproduksi lebih kurang 1.000 unit miniatur per bulan. ”Desain dan model miniatur yang dihasilkan selama ini sudah mencapai ratusan,” ujar Hiro.

Untuk jenis pesawat saja, Hiro telah membuat mulai dari wright brothers sampai jet tempur F-35. ”Total sudah sekitar 300 model,” kata bapak dua anak ini.

Hampir semua mainan miniatur dengan berbagai ukuran bisa dibuatnya. Namun, jenis yang paling sulit adalah panser atau tank karena banyaknya rincian struktur yang harus diperhatikan. ”Dari sasis, mesin, interior, sampai baut-baut terkecil harus dibuat semirip mungkin dengan bentuk aslinya,” ujarnya.

Selain itu, Hiro menuturkan, pembuatan miniatur replika tank membutuhkan banyak bahan baku, mencapai 2.000-3.000 potongan kayu. ”Waktu pengerjaan juga lama. Bisa mencapai satu bulan untuk mengerjakan 25 miniatur replika tank,” katanya.

Kreativitas Hiro menjadi wujud nyata potensi industri kreatif yang dimiliki anak negeri ini. Tak salah bila pemerintah mencanangkan industri kreatif sebagai salah satu unggulan Indonesia memasuki pasar global.

Hiro menjadi potret dari perlunya selalu mengembangkan kreativitas, mengubah hal yang tak berguna menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi. Bahkan, hal yang bisa menciptakan lapangan kerja, bukan saja untuk dirinya sendiri, melainkan juga untuk orang lain.

Kreativitas Hiro telah membantu negeri ini mengurangi jumlah penganggur. Semoga semakin banyak Hiro-Hiro lain yang menyusul.

Sumber : Kompas dan The Jakarta Post
Iklan

Serba Mini dari Betawi

Menyalurkan hobi, melestarikan budaya, sekaligus berbisnis. Begitulah yang dilakoni Burhan dan tiga kawannya yang tergabung dalam rumah produksi Artbizz. Sebagai “anak sekolahan” yang lahir dan besar di kawasan Lebak Bulus, dia cukup paham seluk-beluk budaya asli masyarakat Betawi. Burhan dan kawan-kawan ingin khalayak luas, termasuk wisatawan asing yang berkunjung ke Jakarta, mendapatkan oleh-oleh nan simpel tapi penuh makna. Dari hasil kongko pada pertengahan tahun lalu, tercetuslah ide membuat rumah adat betawi dalam bentuk mini.

Sebagai anak betawi, ia prihatin karena sulit menemukan rumah warga Betawi yang betul-betul berkonsep tradisional di kampung Betawi. “Banyak orang yang tak paham kalau tiap bagian rumah adat betawi ini memiliki makna,” kata insinyur teknik informatika jebolan Universitas Pembangunan Nasional Veteran itu saat ditemui Tempo di Mal UKM, Tanah Abang, Sabtu pekan lalu. Dia mencontohkan, paseban atau ruang tamu selalu terletak di depan rumah. Ini bermakna sifat orang Betawi yang terbuka dan siap menerima tamu kapan saja. Sedangkan gigi balang, rumbai yang berada di bawah atap, bermakna pertahanan yang kuat.

Kerajinan berupa rumah adat mini bukanlah yang pertama. Rumah adat Bali dan Yogyakarta telah lebih dulu dibuat orang. Tapi Burhan mengklaim, rumah adat Betawi yang dibuatnya amat menonjolkan detail. Saat ini, Artbizz baru menggarap dua dari empat jenis rumah Betawi, yakni rumah panggung (tingkat si Pitung) dan gudang. Sisanya, joglo dan kebaya tengah digarap untuk mengikuti ajang pamer tingkat nasional.

Untuk mendapatkan desain tempo dulu, mereka harus membuka-buka aneka buku kuno dan berselancar di dunia maya. “Sekitar 75 persen bahan yang kami gunakan merupakan hasil daur limbah,” kata Tomo, pria keturunan Jawa kelahiran Bali yang didaulat sebagai kepala produksi. Untuk atap, misalnya, dipilih janur kering. Tusuk gigi digunakan untuk membentuk jendela kayu. Pintu dan kolom rumah terbuat dari bambu kuning. Melengkapi detail, Tomo menambahkan sepiring pisang goreng dan secangkir kopi yang terbuat dari clay (keramik berbahan parafin). Semua bahan didapat dari lingkungan sekitar. Sejauh ini, mereka belum menemukan kesulitan berarti. Satu-satunya kesulitan adalah ketelitian dan kesabaran, terutama pada pembuatan detail, seperti bilik dan gigi balang.

Untuk modal, sejauh ini mereka belum melirik bantuan perbankan. Dari hasil saweran keempat sekawan itu: Burhan, Tomo, Iwan, dan Usman, terkumpul Rp 10 juta sebagai modal awal. Untuk urusan pengembangan produk dan pemasaran, Burhan dan Tomo menunjuk Iwan dan Usman. Selain rajin mengikuti pameran, Artbizz sudah menggandeng agen di lingkungan Taman Mini untuk mempromosikan dan menjual produknya. Mereka juga tengah berupaya memasukkan produk ke daerah wisata lain dan bandara di seluruh Tanah Air. Saat ini, sekitar 70 persen konsumennya tergolong orang kaya, sisanya korporat. “Mereka minta dibuatkan miniatur yang berisi produk-produk perusahaan,” kata Burhan.

Kini, pemerintah daerah dan SME’sCo (Small Medium Enterprises Cooperative) telah menunjukkan perhatian terhadap mereka. Bulan depan, kata dia, Konsulat Jenderal RI di Hong Kong akan membawa produk miniatur mereka untuk mengikuti pameran usaha kecil dan menengah di sana. Produk yang dibuat pun meluas ke barang lain yang masih berbau betawi, seperti gerobak kerak telor, kandang kambing, pensil berbentuk ondel-ondel, hingga rumah etnik Cina lengkap dengan gasibu dan naga di atapnya. Desain lain yang tengah dirancang adalah masjid dan jembatan Muara Angke. Sejauh ini, semua produk dibuat dengan bantuan empat orang pekerja dari lingkungan sekitar.

Satu di antaranya bertitel insinyur sipil. Dalam pameran di Pekan Raya Jakarta pada Agustus lalu, seorang investor asal Belanda menyatakan minatnya terhadap produk Artbizz. “Dia minta dibuatkan mainan kincir angin tradisional Indonesia,” kata Tomo. Setelah Lebaran, Oktober nanti semua pesanan dan tawaran kerja sama akan ditindaklanjuti. Meski berukuran mini, karena proses pembuatannya butuh ketelitian ekstra, harga jual produk Artbizz tergolong mahal. Rumah adat Betawi berukuran 30 x 40 sentimeter, misalnya, dihargai Rp 2,5 juta. Miniatur gerobak kerak telor dibanderol Rp 500-700 ribu, dan Rp 10 ribu untuk untuk pensil ondel-ondel. Rieka Rahadian

Sumber : www.tempointeraktif.com

LESTARIKAN BUDAYA BANGSA DENGAN KERAJINAN MINIATUR RUMAH ADAT

Berawal dari keprihatinan dengan makin tergusurnya berbagai rumah adat di Indonesia, seorang warga di Solo, Jawa Tengah, sejak 13 tahun terakhir, memilih profesi sebagai pembuat miniatur berbagai bentuk rumah adat. Miniatur ini dibuat dari kayu-kayu bekas dengan cara manual dan dijual dengan harga 50 hingga 100 ribu rupiah per buah.

Di sebuah kios kecil di jalan Ronggowarsito, Kota Solo, milik Slamet Riyadi, Anda dapat melihat berbagai aneka miniature rumah adapt Indonesia. Aneka barang dagangan ini sangat unik dan tidak bisa ditemui di tempat lain.

Slamet Riyadi sudah sejak 13 tahun lamanya menggeluti usaha pembuatan miniature rumah adapt. Profesi tersebut dipilih setelah Slamet melihat banyak rumah adat asli Indonesia, yang saat ini justru makin terpinggirkan.

Berbekal brosur-brosur rumah adat yang merupakan oleh-oleh anaknya saat berpiknik ke Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, Slamet pun mempunyai ide untuk membuat miniatur rumah adat tersebut, agar tidak makin dilupakan.

Tanpa karyawan atau pembantu, Slamet Riyadi membuat miniatur rumah adat ini dengan peralatan sederhana. Bahannya pun hanya memanfaatkan kayu-kayu limbah dari pabrik kayu olahan.

Karena dilakoninya sendiri, dalam sehari, Slamet biasanya hanya bisa membuat satu hingga dua buah miniatur. Bahkan, jika sulit, seperti rumah adat Toraja, Slamet butuh waktu tak kurang dari 3 hingga 4 hari, agar motif ukiran bisa persis sama dengan bentuk aslinya.

Meski dijual hanya dengan 50 hingga 100 Ribu Rupiah per buah, namun omset penjualan miniatur rumah adat ini tergolong masih sangat kecil. Dalam sebulan paling banyak hanya sekitar 1 hingga 5 miniatur saja yang bisa terjual.

Bahkan pernah dalam sebulan, tidak satupun miniatur karya Slamet bisa terjual. Keuntungan lebih hanya bisa didapatnya jika mendapat pesanan dari sekolah-sekolah, dengan jumlah cukup banyak. Jika tidak ada pesanan, waktunya pun lebih banyak dihabiskan untuk mengukir miniatur rumah adat, daripada melayani pembeli.

Meski demikian usaya yang di rintis Slamet Riyadi, patut diacungi jempol karena telah berusaha melestarikan budaya bangsa dengan membuat miniatur rumah adat berbentuk tige demensi tanpa harus pergi ke tempat asalnya.

Sumber : Bursa Kreasi

Cantiknya Miniatur Clay

UKURAN BOLEH MINI, TAPI HARGA TINGGI

Bentuknya mungil, lucu, dan memiliki detail yang rumit. Pastilah perlu keterampilan tangan dan kesabaran untuk membuatnya. Ya, miniatur clay memang cantik dan menarik untuk pemanis di ruangan. Jangan takut harga tinggi, Anda bisa membuatnya sendiri, kok.


Sebuah perpustakaan tampak nyaman dan hening. Jam dinding kuno berbandul logam menempel di sudut ruang. Berbaris-baris buku tersusun rapi dalam rak-rak kayu. Terdapat pula galeri lukisan mungil yang memajang karya-karya nan indah. Di luar perpustakaan, sebuah kebun bunga beratap dan berdinding kaca begitu memesona. Terlihat warna-warni bunga matahari, mawar, anggrek, tulip, teratai, adenium, hingga kaktus dalam pot-pot tanah.

Di sudut lain, tampak deretan gerobak yang menjual penganan tradisional. Mulai dari bakso, sate, tahu gejrot, bubur ayam, rujak, dan es durian. Ada pula warung lesehan berbentuk rumah panggung dari kayu yang menyuguhkan masakan khas Indonesia. Di atas meja bambu terhidang nasi dalam bakul, sambal ulek, lalapan, ayam bakar, oseng-oseng tauge, dan juga es kelapa muda. Sedap bukan?

Uniknya, Anda bisa memajang panorama itu di rumah Anda. Kok bisa? Tentu saja karena semua pemandangan tadi hanya bentuk miniatur.


Detail Besarnya nasi dalam satu bakul tak lebih dari setengah ruas jari kelingking. Sementara, tinggi gerobak bakso pun hanya sepuluh sentimeter. Begitu pula dengan perpustakaan, kebun bunga, dan galeri lukisan, luasnya tak lebih dari 20 x 15 sentimeter.

Pemandangan nan menarik itu terlihat di sebuah toko mungil berjuluk Little Things di dalam toko buku QB Plaza Semanggi, Jakarta. Memang mungil. Ya, semua barang tersebut tak lain adalah miniatur clay. Clay sendiri adalah semacam bahan yang menyerupai lilin, lembut, mudah dibentuk, dapat mengeras, mengering dengan sendirinya, dan bersifat nontoxin.
Seni membuat miniatur clay berasal dari negeri sakura dan masuk ke Indonesia sekitar lima tahun silam. Kini, toko-toko yang menjual beragam pernik miniatur clay mulai banyak ditemukan di ibukota.

SEDIAKAN PAKET KURSUS
Pemilik Little Things, Merry Surya Prakasa, menceritakan bisnisnya ini berawal dari hobi mengoleksi barang-barang miniatur sejak tahun 1984. Iseng-iseng Merry membeli buku panduan dan mencoba membuat sendiri di rumah. Bahan-bahan yang perlukan antara lain, clay, lem putih, cat minyak, pinset, resin, varnish, gunting kecil, kuas, dan pisau kecil.


Detail “Bahan baku clay ini, sebetulnya banyak sekali ragam dan kegunaannya. Ada yang teksturnya sangat lembut, mengandung banyak karet, harus di panggang dalam oven, ataupun berwarna-warni. Nah, saya memilih menggunakan produk Thailand yang serba guna. Harganya pun lebih terjangkau dibanding produk Jepang,” kata Merry menjelaskan.

Semakin lama, kreativitas Merry semakin terasah. Bila semula hanya membuat bentuk satuan, Merry mulai membuat miniatur dalam bentuk set yang ditaruh di boks mika atau frame kayu. Ada toko bunga, kamar tidur, kamar mandi, warung tradisional, pasar sayur mayur, troli supermarket, toko kain, restoran jepang, bahkan tempat fitness. “Jika sedang mood, dalam sehari saya bisa membuat hingga tiga set miniatur,” imbuh Merry.

Detail Merry menjelaskan, beberapa barang penunjang, seperti miniatur piring, tea set, keramik, atau perabot rumah tangga dari logam dan plastik, masih diimpor dari Thailand, Hongkong, Singapura, Taiwan, Jepang, Amerika dan Australia. Sementara, untuk bahan-bahan penunjang yang berbahan kayu dan rotan, “Saya menggunakan produk lokal. Saya bekerja sama dengan beberapa perajin di Bandung dan Tasikmalaya untuk membuat miniatur meja, kursi, keranjang, warung, gerobak, dan sebagainya.”

Khusus untuk miniatur produk-produk makanan dan minuman kemasan, Merri membuat sendiri dengan menggunakan kardus, alumunium, dan resin. “Saya beli produk aslinya, lalu difoto, dicetak perkecil dan dilipat-lipat sendiri agar tampak semirip mungkin dengan yang asli,” papar istri Ferry Salim yang baru tahun lalu memberanikan diri membuka toko.

Ternyata, kreasi ini banyak peminatnya. Bukan sekadar membeli, banyak pula yang ingin berkreasi sendiri. “Iya, makin banyak yang tertarik ingin belajar membuat miniatur clay. Saya pun membuka paket kursus di toko. Untuk satu jam pertemuan, biayanya Rp 35 ribu, sementara untuk empat jam biayanya Rp 110 ribu. Harga tersebut belum termasuk bahan clay yang bisa dibeli seharga Rp 59 ribu,” ungkap wanita berwajah jelita ini.

sumber :  nostalgia.tabloidnova.com

Industri Kerajinan Miniatur Kapal Layar dari Mojokerto

Kondisi wilayah geografis Indonesia yang terdiri dari puluhan ribu pulau dan diapit oleh dua benua (benua Asia dan Australia) serta dua samudera luas (samudera Pasifik dan samudera Hindia) telah menjadikan bangsa Indonesia sebagai bangsa bahari. Sudah berabad-abad lamanya para pelaut Indonesia, dengan hanya menggunakan perahu bercadik mampu mengarungi samudera luas untuk mencapai wilayah-wilayah di belahan bumi lainnya.

2008062020

Salah satu bukti sejarah yang sekaligus juga dapat diasosiasikan sebagai dokumen otentik jaman dulu mengenai kejayaan nenek moyang bangsa Indonesia di lautan pada masa lampau adalah relief mengenai perahu bercadik yang ada di Candi Borobudur. Padahal Candi Borobudur sendiri diyakini para ahli sejarah dibangun sekitar abad ke-7 atau abad ke-8 masehi. Karena itulah, kemudian lahir semboyan dan nyanyian bahwa nenek moyang bangsa Indonesia adalah bangsa pelaut.

Berbicara tentang masalah bahari tentu tidak akan terlepas dari alat transportasi laut yang disebut dengan perahu atau kapal. Kemampuan bangsa Indonesia dalam membuat perahu atau kapal pun sudah cukup tinggi. Para pelaut dari suku Bugis dan Bone sudah sejak lama memproduksi kapal tradisional pinisi yang memiliki kemampuan jelajah yang cukup tinggi. Sampai saat ini pun masih banyak saudagar atau pun para nelayan tradisional di wilayah Sulawesi Selatan yang menggunakan kapal pinisi.

Seni dan keterampilan membuat kapal layar tradisional itu menjadi inspirasi bagi Yuliastoni, seorang pengrajin miniatur kapal layar tradisional dan kapal layar Eropa yang banyak dipergunakan sekitar abad ke-15 sampai abad ke-17. Melalui Sanggar Seni Adhesinya, Yuliastoni memproduksi berbagai bentuk kerajinan miniatur kapal layar tradisional dan kapal-kapal layar Eropa yang sangat mirip dengan bentuk kapal layar aslinya.

Yuliastoni yang sebelumnya menggeluti industri kerajinan mainan anak-anak dari kayu, baru terjun ke industri kerajinan miniatur kapal layar sejak tahun 1998. Pada awalnya Yuliastoni hanya coba-coba membuat miniatur kapal layar dengan meniru model-model kapal layar tradisional Indonesia seperti kapal pinisi dan kapal jukung. Sistem penjualannya pun dilakukan secara sederhana, yaitu dari pintu ke pintu (door to door). Namun penjualan secara door to door itu justru membuat Yuliastoni lebih dekat dengan konsumen. Kedekatan hubungan dengan para konsumen itulah yang membuat Yuliastoni mengetahui persis apa yang diinginkan konsumennya. Sebab, melalui interaksi yang cukup intens dengan konsumen, Yuliastoni bisa memperoleh banyak masukan berharga mengenai produk buatannya.

20080620110

Semua masukan dari kalangan konsumen itu diterima Yuliastoni dengan tangan terbuka untuk selanjutnya diterapkan dalam upaya pengembangan produk selanjutnya. Dengan mendengarkan masukan-masukan itu, produk miniatur kapal layar buatan Yuliastoni terus berkembang. Model kapal layar yang diproduksi pun semakin beraneka ragam. Kini, Yuliastoni tidak hanya mampu memproduksi miniatur kapal layar tradisional Indonesia saja, tetapi juga memproduksi berbagai miniatur kapal layar Eropa. Keahlian Yuliastoni dalam memproduksi miniatur kapal layar terlihat jelas dari kemiripan miniatur itu dengan bentuk asli kapal layarnya. Hal itu dapat dicapai karena Yuliastoni selalu memperhatikan akurasi skala ukuran miniatur dibandingkan dengan ukuran kapal aslinya.

Keberhasilan Yuliastoni dalam memproduksi miniatur kapal layar pun diikuti dengan mengalirnya pesanan dari para konsumen untuk membuat model-model kapal layar sesuai dengan keinginan dan selera konsumen. Meningkatnya pesanan pembuatan miniatur kapal layar dari para konsumen telah membuat Yuliastoni terpaksa menghentikan kegiatan penjualan door to door. Sebagai gantinya, Yuliastoni membangun sanggar seni sendiri sebagai wahana untuk memperkenalkan berbagai produk miniatur kapal layarnya kepada para konsumen maupun para calon konsumen. Kendati demikian Yuliastoni tetap mempertahankan komunikasi dengan para konsumennya untuk menampung aspirasi mereka.

Untuk membuat berbagai miniatur kapal layar itu Yuliastoni mempergunakan bahan baku utama berupa kayu mahoni atau kayu sonokeling yang secara kebetulan mudah diperoleh dari sekitar Mojokerto dengan harga yang relatif murah namun kualitas kayunya cukup bagus. Kayu mahoni atau sonokeling itu dipergunakan untuk membuat badan kapal mulai dari anjungan, lambung kapal sampai buritan. Untuk membuat tiang-tiang miniatur kapal layar, Yuliastoni memanfaatkan limbah kayu ramin dari pabrik pengolahan kayu di sekitar Surabaya. Limbah kayu ramin ini sengaja dipilih karena kayu ramin memiliki sifat yang mudah dibubut. Bahan pendukung lainnya yang sering pergunakan untuk membuat miniatur kapal layar diantaranya benang nilon untuk tali atau tambang miniatur kapal, serta kain takonsit untuk pembuatan layar miniatur kapal serta monte-monte.

2008062028

Dengan dibantu oleh 12 orang karyawan, Yuliastoni kini mampu memproduksi rata-rata sekitar 1.000 unit miniatur kapal layar berbagai model dengan berbagai ukuran mulai dari ukuran panjang 10 cm sampai ukuran panjang 2 meter. Produk kerajinan miniatur kapal layar itu dipasarkan ke sejumlah kota besar di tanah air seperti Jakarta, Bali dan Yogyakarta dengan harga yang bervariasi mulai dari Rp 20.000 per unit hingga Rp 2 juta per unit. Selain dijual di toko-toko barang seni di berbagai kota di Indonesia, produk miniatur kapal layar buatan Yuliastoni banyak juga diminati para turis asing dari Australia sebagai barang souvenir. Sejak beberapa tahun terakhir ini, Yuliastoni secara rutin juga mengekspor produk miniatur kapal layarnya ke Korea Selatan.

Dalam benaknya Yuliastoni masih menyimpan angan-angan untuk mengembangkan produk miniatur kapal layarnya secara terurai (completely knocked down) agar memudahkan dalam pengiriman kepada pembeli sekaligus untuk menghemat ongkos kirim barang. Sebab, selama ini ongkos pengiriman produk miniatur kapal layar dalam bentuk utuh (completely built-up) terhitung cukup besar mengingat produk tersebut banyak memakan tempat. Bahkan seringkali terjadi pembeli terpaksa membatalkan kesepakatan jual beli akibat tingginya biaya pengiriman.

“Ke depan saya akan mencoba mengembangkan produk miniatur kapal layar secara teruarai sehingga akan memudahkan dalam pengemasan dan pengirimannya. Setiap kemasan produk kapal layar CKD akan dilengkapi dengan petunjuk perakitannya dimana setiap komponen miniatur kapal layar akan diberi nomor untuk memudahkan pembeli merakitnya kembali,” demikian Yuliastoni.

Sumber :  Arifh blogdetik